Dibuat di Jakarta, Diuji di Hormuz

# Dibuat di Jakarta, Diuji di Hormuz

Analisis dan opini untuk tujuan edukasi. Nama emiten disebut sebagai konteks ilustratif, bukan rekomendasi jual atau beli. Lakukan riset mandiri (DYOR). Bukan nasihat keuangan.

Sepanjang paruh pertama 2026, pertanyaan yang paling sering sampai ke meja saya soal komoditas Indonesia berbunyi kurang lebih sama: apakah ketegangan India–China akan mengalihkan aliran dagang Asia ke Nusantara? Data yang saya kumpulkan menunjukkan arah yang berbeda. Poros New Delhi–Beijing sedang menghangat, bukan memanas. Sejak pertemuan Modi dan Xi di Kazan pada Oktober 2024, kedua negara memulihkan patroli perbatasan, menghidupkan lagi kerangka Special Representatives, membuka kembali penerbangan langsung pada 27 Oktober 2025, dan melonggarkan pembatasan investasi lewat revisi Press Note 3 pada Maret 2026. Wang Yi bertemu Ajit Doval di New Delhi pada Juni 2026. India memegang kursi ketua BRICS 2026 dan menjadi tuan rumah KTT pada September.

Selat yang benar-benar tertutup pada 2026 juga bukan Malaka. Sejak 28 Februari 2026, konflik bersenjata di Teluk — perang udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, dibalas Iran dengan penutupan jalur, penghadangan kapal, dan ranjau laut — melumpuhkan Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilewati sekitar 25% perdagangan minyak laut dunia dan 20% LNG global. Dalam 48 jam pertama, premi asuransi war-risk melonjak lima kali lipat, lalu ditawarkan ulang pada kelipatan berkali-kali dari tarif prakrisis. Joint War Committee Lloyd's menetapkan seluruh Teluk Arab sebagai zona konflik. Lalu lintas tanker runtuh lebih dari 80%.

Dari dua fakta itu, tesis yang saya pegang untuk sisa 2026 menjadi sederhana: daya tawar komoditas Indonesia tahun ini dirancang di Jakarta, dan diuji di Hormuz. Ia lahir dari kuota RKAB, Domestic Market Obligation, pungutan ekspor sawit, mandat biodiesel, sistem ekspor satu pintu, dan aturan devisa hasil ekspor — bukan dari perselisihan dua tetangga di Himalaya.

Poros India–China Sedang Menghangat

Normalisasi India–China berjalan bertahap dan terdokumentasi. Kesepakatan pengaturan patroli di Depsang dan Demchok (Oktober 2024) membuka jalan bagi kunjungan tingkat tinggi yang sempat beku sejak 2020: menteri pertahanan dan menteri luar negeri India ke China pada Juni dan Juli 2025, Wang Yi ke India pada Agustus 2025, lalu Modi ke Tianjin untuk KTT SCO pada 31 Agustus 2025 — kunjungan pertama seorang perdana menteri India ke China dalam tujuh tahun. Pada Mei 2026, pertemuan ke-35 Working Mechanism for Consultation and Coordination di Beijing menyatakan kepuasan atas ketenangan di sepanjang Line of Actual Control.

Yang penting untuk dipahami investor: normalisasi diplomatik dan de-risking industrial berjalan bersamaan, tidak saling meniadakan. India tetap membangun rantai pasok yang tidak bergantung pada China di pabriknya, sementara duduk semeja dengan Beijing di forum multilateral. Inilah mesin sesungguhnya di balik permintaan India atas mineral Indonesia — sebuah program kebijakan industri berjangka satu dekade, bukan reaksi terhadap konflik perbatasan.

Chokepoint yang Aktif Berada di Teluk

Mekanisme yang sering dibayangkan terjadi di Selat Malaka — premi asuransi melonjak, kapal mencari rute alternatif — benar-benar terjadi pada 2026, tetapi di Hormuz. Lembaga pasar Lloyd's (LMA) mengklarifikasi pada 23 Maret 2026 bahwa penutupan itu bukan karena cover asuransi hilang: cover tetap tersedia, dan yang menghentikan kapal adalah penilaian nakhoda serta pemilik atas keselamatan awak. Pemerintah AS bahkan menugaskan lembaga pembiayaan pembangunannya menyiapkan fasilitas reasuransi hingga US\$40 miliar agar arus tetap berjalan.

Harga minyak mengikuti. Brent sempat menembus kisaran US\$119 pada Maret, lalu melandai ke US\$72,68 pada 1 Juli 2026 setelah gencatan senjata, dan naik lagi sekitar 5% ke US\$77,92 pada 8 Juli ketika gencatan senjata itu retak. Poin yang paling sering terlewat: guncangan Hormuz memukul India dan China dengan cara yang sama. Keduanya importir energi besar yang bergantung pada jalur itu. Chokepoint ini mendekatkan kepentingan mereka, bukan memisahkan.

Batubara: Harga Ditopang Pasokan

Harga batubara acuan Indonesia memang menguat — US\$148,75 per ton pada 5 Juni 2026, naik 12,65% dibanding bulan sebelumnya. Namun sumber kekuatannya ada di sisi pasokan, bukan di perebutan pembeli.

Dari sisi permintaan, arahnya justru mengecil. India menargetkan pemangkasan impor batubara untuk pembangkit listrik sedikitnya 30% pada 2026, sekitar 15 juta ton dari total impor pembangkit yang mendekati 50 juta ton pada 2025. Produksi batubara nasional India telah menembus 1 miliar ton, dengan Coal India mencatat rekor 781,1 juta ton pada tahun fiskal hingga Maret 2025 dan persediaan pembangkit sekitar 55 juta ton — setara 24 hari operasi, jauh di atas ambang normatif 15 hari. Impor batubara termal India turun 6,2% sepanjang 2025, penurunan tertajam sejak 2021, lalu turun lagi 8,5% menjadi 16,55 juta ton pada Februari 2026.

Yang terjadi pada batubara kalori rendah adalah diskon, bukan premi. Ketika harga global melandai, batubara kalori tinggi menjadi kompetitif: satu ton batubara CV tinggi dapat menggantikan 1,2–1,5 ton batubara Indonesia. Ekspor batubara Indonesia ke India turun dari 109,8 juta ton (2022) ke 107,8 juta ton (2024), dan pada semester I 2025 pengiriman ke China dan India masing-masing turun 20% dan 9,55%. Sepanjang Januari–April 2026, total ekspor batubara Indonesia tercatat 151,1 juta ton, turun 6,9% secara tahunan.

Penopang harga tahun ini datang dari empat kebijakan dan satu cuaca: kuota RKAB yang diarahkan ke kisaran 600 juta ton, kewajiban DMO, defisit listrik Jawa yang sempat mencapai sekitar 2 GW pada Juni 2026 dan memicu pengalihan sementara kargo ekspor, jaminan pemerintah bahwa tidak ada larangan ekspor formal, serta El Nino yang mengetatkan produksi dan logistik pada paruh kedua.

Sawit: Beban Terberat Ada di Jakarta

Pada sawit, variabel yang paling menentukan margin eksportir Indonesia hari ini adalah pungutan di pelabuhan sendiri. Tarif pungutan ekspor CPO naik bertahap: 7,5% (September 2024), 10% (Mei 2025, PMK 30/2025), dan 12,5% sejak 1 Maret 2026 lewat PMK 9/2026. Pada Juni 2026, beban gabungan bea keluar dan pungutan mencapai sekitar US\$276,69 per ton, setara 26,9% dari harga referensi — mendekati level tertinggi 30 bulan.

Permintaan dari pembeli utama justru melunak. Kementerian Perdagangan memangkas harga referensi CPO Juni 2026 menjadi US\$1.029,51 per ton dengan alasan eksplisit turunnya permintaan dari importir utama seperti India, lalu memangkasnya lagi ke US\$1.000,90 untuk Juli. India membeli minyak nabati berdasarkan harga dan melindungi petani biji minyaknya dengan bea masuk; pasar yang menuntut standar keberlanjutan secara harga adalah Uni Eropa, lewat regulasi deforestasi dan kuota bebas bea satu juta ton.

Mandat B50 yang berlaku Juli 2026 menambah lapisan berikutnya: ia menyerap CPO ke pasar domestik dan dibiayai dari pungutan yang sama. Tekanannya melingkar — pungutan yang lebih tinggi dibutuhkan untuk mendanai mandat, sementara mandat itu sendiri mengurangi volume ekspor yang menjadi basis pungutan.

Nikel: Yang Ditandatangani di Jakarta adalah Baja

Kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Modi ke Jakarta pada 6–8 Juli 2026 adalah peristiwa yang paling relevan bagi tesis komoditas Indonesia tahun ini — dan isinya berbeda dari yang biasa diasumsikan. Kunjungan itu menghasilkan sekitar 20 kesepakatan, tiga di antaranya terkait mineral. Dokumen inti berbicara tentang "mineral dan teknologi untuk rantai pasok baja". Steel Authority of India dan Krakatau Steel menyepakati usaha patungan. Indonesia mendorong percepatan negosiasi preferential trade agreement. Perdagangan bilateral mencapai US\$9,6 miliar pada Januari–Mei 2026, tumbuh 3,80% secara tahunan, dari sekitar US\$23,2 miliar sepanjang 2025.

Struktur permintaannya konsisten dengan itu. Baja nirkarat masih menyerap lebih dari 60% permintaan nikel global; baterai, kendaraan listrik, dan penyimpanan energi hanya sekitar 13–20%. Pangsa katoda NMC di China turun dari 25% (2024) ke 18% (sembilan bulan 2025), dan intensitas nikel per kendaraan sudah turun sekitar sepertiga sejak 2020. India sendiri masih mengimpor hampir seluruh material katodanya. Cadangan nikel Indonesia — sekitar 62 juta ton, terbesar di dunia — menjadi daya tarik yang nyata, tetapi kanal yang aktif hari ini bernama baja, bukan sel baterai.

Harga bergerak di kisaran US\$16.200–16.400 per ton pada 6 Juli 2026, setelah US\$19.400 pada April, dengan surplus global yang diperkirakan melebar dari 209 ribu ton (2025) ke 261 ribu ton (2026) dan utilisasi smelter domestik 70–75%.

Belerang: Mata Rantai yang Jarang Dihitung

Ada satu jalur di mana geopolitik benar-benar menyentuh nikel Indonesia pada 2026, dan jalur itu melewati Teluk. Sekitar 75% impor belerang Indonesia berasal dari Iran. Belerang adalah bahan baku asam sulfat, dan asam sulfat adalah jantung proses high pressure acid leaching — satu-satunya jalur teknologi yang mengubah bijih laterit kadar rendah menjadi mixed hydroxide precipitate kelas baterai. Gangguan di Hormuz mengetatkan pasokan reagen ini.

Artinya risiko geopolitik terbesar bagi hilirisasi nikel Indonesia bukan berada di perbatasan Himalaya, melainkan di sebuah selat sempit di Teluk Persia. Ini contoh paling tajam dari prinsip yang saya pegang: rantai pasok gagal di titik yang jarang dilihat orang.

Peta Rantai Nilai (Ilustratif)

Tabel berikut memetakan posisi dan mekanisme, bukan peringkat. Angka adalah data publik terakhir yang saya verifikasi.

Simpul Emiten (ilustratif) Posisi & mekanisme Angka publik yang saya pantau
Batubara termal ADRO (Alamtri Resources) Terintegrasi, kokas + termal Laba bersih 2025 turun 68%; laba Q1 2026 naik 67,07%
Batubara termal ITMG Orientasi ekspor Asia Timur Laba bersih 2025 turun 49,19% menjadi US\$190,94 juta
Batubara termal PTBA Eksposur DMO dan pasar domestik Laba Q1 2026 naik sekitar 105%, ditopang efisiensi
Sawit hulu AALI Efisiensi operasional dan pengendalian biaya Pendapatan Q1 2026 Rp7,5 T (naik 6,8%); laba Rp373,4 M (naik 34,78%)
Sawit hulu DSNG Volume menutup harga jual yang melemah Laba Q1 2026 naik 16,91%; volume CPO naik 18%, ASP turun 3%
Sawit hulu SGRO Sensitivitas volume dan biaya Pendapatan Q1 2026 turun 23,06%; laba turun 67,7%
Nikel HPAL NCKL HPAL berjalan, margin kotor relatif tinggi Laba 2025 Rp6,44 T (naik 33,33%); pendapatan Rp22,40 T
Nikel terintegrasi MBMA (induk MDKA) Eksposur harga jual dan struktur biaya Pendapatan 2025 US\$1,43 miliar (turun 22,28%); laba induk US\$29,56 juta
Nikel INCO (Vale Indonesia) Smelter bertenaga air; MIND ID 34% Jejak karbon relatif rendah dibanding smelter berbasis batubara
Bijih & hilir ANTM Penjualan bijih domestik, mitra JV asing Diuntungkan volume bijih domestik seiring hilirisasi
Baja KRAS (Krakatau Steel) Usaha patungan dengan SAIL (MoU 7 Juli 2026) Nilai belum diumumkan

Catatan: Indonesia Battery Corporation (IBC) bukan emiten Bursa Efek Indonesia. Ia konsorsium BUMN. Eksposur publik atas ekosistem baterai berjalan lewat ANTM. PLN juga tidak tercatat di bursa.

Sisi Lain

Tesis mana pun perlu diuji dari sisi berlawanan, dan di sini ada empat.

Pertama, pencairan India–China bersifat taktis, bukan strategis. Garis kendali aktual belum didemarkasi, penarikan pasukan mandek, dan friksi berlanjut soal proyek infrastruktur di wilayah sengketa, dukungan Beijing kepada Pakistan, serta isu bendungan di hulu sungai lintas batas. Jika hubungan berbalik, kanal pengamanan pasokan yang saya nilai belum aktif hari ini bisa menyala.

Kedua, Selat Malaka tetap kerentanan struktural — 25–30% perdagangan dunia dan sekitar 80% impor minyak China melintasinya. Mekanisme yang menutup Hormuz secara komersial bisa, secara prinsip, bekerja di sana. Yang saya tolak adalah klaim bahwa ia sedang bekerja pada 2026, bukan bahwa ia mustahil.

Ketiga, gencatan senjata di Teluk rapuh; Brent naik sekitar 5% dalam sehari pada 8 Juli. Skenario di mana Hormuz kembali tertutup akan mengangkat harga energi dan sekaligus menekan pasokan belerang untuk HPAL — kombinasi yang tidak seragam arahnya bagi emiten nikel.

Keempat, risiko kebijakan berjalan dua arah. DMO dan pengalihan kargo dadakan membatasi upside eksportir batubara ketika harga global naik. Bea masuk India membatasi CPO. Pergeseran ke kimia LFP membatasi permintaan nikel jangka panjang. Dan transisi ekspor satu pintu lewat PT Danantara Sumberdaya Indonesia — yang secara resmi dirancang untuk menekan under-invoicing, transfer pricing ke entitas afiliasi di luar yurisdiksi pajak Indonesia, dan pelarian devisa hasil ekspor — masih menuai keberatan soal arus kas dan permintaan penerapan bertahap dari asosiasi eksportir. Ini mekanisme dan alasan regulator yang bersifat publik, bukan tuduhan kepada perusahaan mana pun.

Kesimpulan: Tiga Pembeda

Saya menutup dengan tiga pembeda yang saya pakai membaca komoditas Indonesia 2026.

Bedakan normalisasi dari de-risking. India merapat ke Beijing di meja diplomasi sambil terus menjauh dari rantai pasok China di pabriknya. Permintaan India atas mineral kita lahir dari yang kedua, bukan dari konflik.

Bedakan tarikan permintaan dari batasan pasokan. Harga batubara dan nikel tahun ini ditopang kuota, DMO, cuaca, dan royalti. Permintaan dari dua pembeli terbesar justru menyusut. Harga yang naik karena pasokan diperketat berperilaku berbeda dari harga yang naik karena pembeli berebut.

Bedakan chokepoint yang aktif dari yang struktural. Hormuz aktif hari ini, dan ia menyentuh Indonesia lewat harga energi dan pasokan belerang. Malaka tetap kerentanan permanen yang belum menyala. Menyamakan keduanya membuat kita menyiapkan payung untuk hujan yang salah.

Daya tawar Indonesia nyata. Ia hanya tidak datang dari tempat yang biasa disebut orang.

Referensi

  • The Diplomat, "China-India Relations in 2026: Can the Thaw Continue?" (3 Januari 2026)
  • East Asia Forum, "China–India rapprochement is tactical, not strategic" (25 Mei 2026)
  • ISPI, "Analysing the Thaw in China-India Relations" (27 Januari 2026)
  • Bloomberg, "India, China Hold Border Cooperation Talks Amid Thaw in Ties" (28 Mei 2026)
  • Wikipedia, "2026 Strait of Hormuz crisis" (diakses Juli 2026), merujuk Lloyd's List, IMO, CNBC
  • Lloyd's Market Association, "Safety concerns, not insurance availability, driving reduced vessel traffic in the Strait of Hormuz" (23 Maret 2026)
  • World Economic Forum, "What stopping war-risk insurance in the Strait of Hormuz tells us" (April 2026)
  • Reuters via Business Standard, "India aims to cut thermal coal imports by 30% for power plants in 2026" (27 Februari 2026)
  • mjunction services, data impor batubara India Februari 2026
  • Ember, "Chasing volume, losing value: the cost of coal over expansion in Indonesia" (2026)
  • Jakarta Globe, "Indonesia Cuts CPO Reference Price by \$20 as One-Gate Export Nears" (30 Mei 2026)
  • CropGPT, "Indonesia's CPO competitiveness: export tax and levies" (15 Juni 2026)
  • Jakarta Globe, "India Inks Critical Mineral Deals with Indonesia" (7 Juli 2026)
  • India's World, "Explainer: Prime Minister Modi in Jakarta" (8 Juli 2026)
  • Kontan, laporan keuangan Q1 2026 AALI; Katadata, kinerja emiten nikel NCKL/MBMA/INCO
  • Badan Pusat Statistik, kinerja ekspor Januari–Mei 2026

Konten edukasi. Bukan ajakan jual atau beli. Nama emiten bersifat ilustratif untuk menjelaskan mekanisme, bukan rekomendasi. Lakukan riset mandiri (DYOR).