Bank 2026: Yang Menentukan Bukan Digital atau Daerah, Tapi Ekosistemnya

# Bank 2026: Yang Menentukan Bukan Digital atau Daerah, Tapi Ekosistemnya

Analisis edukatif. Emiten yang disebut adalah contoh ilustratif mekanisme perbankan berdasarkan laporan keuangan publik, bukan rekomendasi jual/beli dan bukan nasihat keuangan. Lakukan riset mandiri (DYOR).

Ada satu ujian yang menurut saya benar untuk menilai sebuah bank, dan ia tidak ada hubungannya dengan tampilan aplikasinya: berapa besar dananya yang tidak akan pergi ketika tetangganya menawarkan bunga 50 basis poin lebih tinggi.

Dana yang tinggal karena nasabahnya perlu rekening itu untuk operasional harian adalah dana franchise. Dana yang tinggal karena dibayar untuk tinggal adalah dana sewaan. Yang pertama menentukan biaya dana; yang kedua menentukan seberapa lama sebuah bank bisa bertahan ketika likuiditas mengetat.

Ujian itu benar. Yang menarik adalah hasilnya ketika benar-benar dijalankan pada data triwulan I 2026.

Bank Jago (ARTO) mencatat rasio CASA 53%. Sebuah bank digital, tanpa jaringan cabang, dengan lebih dari separuh dananya berupa dana murah.

Dan Bank Neo Commerce (BBYB) mencatat CASA 30,34% pada kuartal yang sama. Juga bank digital.

Selisih 23 poin persentase itu bukan selisih antara bank digital dan bank daerah. Ia selisih di dalam kelompok bank digital sendiri. Yang berarti ujiannya memang benar — tetapi sumbunya bukan digital lawan daerah.

Ujiannya Memang Soal Dana, dan Angkanya Membuktikan Itu

Mari mulai dari bagian yang datanya paling kuat: biaya dana memang menentukan.

Bank Jago, triwulan I 2026: DPK Rp26,4 triliun, tumbuh 23% dari Rp21,4 triliun. Dari jumlah itu, CASA 53% atau Rp13,9 triliun, dengan deposito 47% atau Rp12,5 triliun. Kredit tumbuh 24% menjadi Rp25,2 triliun. Laba bersih Rp86 miliar, naik 42% dari Rp60 miliar. Total aset Rp39,5 triliun, tumbuh 22%. Nasabahnya 19,4 juta, bertambah lebih dari 3 juta dalam setahun — 15,2 juta di antaranya nasabah pendanaan. Rasio kredit bermasalah gross-nya tercatat 0,3% pada pertengahan 2025, di bawah rata-rata industri.

Bank Neo Commerce, kuartal yang sama: laba Rp136,98 miliar. DPK Rp13,42 triliun, terkontraksi 1,97%. Tabungan tumbuh 8,62% menjadi Rp3,50 triliun sementara deposito menyusut 2,18% menjadi Rp9,35 triliun — arah yang sengaja ditempuh, karena Direktur Utama Eri Budiono menyebut strateginya adalah meningkatkan komposisi dana murah lewat kapabilitas transaksi. CASA-nya berada di 30,34%. NIM 13,50%, CIR 32,93%, CAR 50,60%.

Perhatikan apa yang barusan terjadi. Kedua bank digital, kuartal yang sama, dan struktur pendanaan yang berbeda 23 poin persentase. Satu tumbuh DPK 23%; satu terkontraksi 2%.

Ujian dana franchise itu memisahkan keduanya dengan tajam. Ia hanya tidak memisahkan mereka dari bank daerah.

Yang Sebenarnya Menentukan: Apakah Banknya Berada di Jalur Transaksi

Ini mekanismenya, dan menurut saya ia menjelaskan seluruh sebaran.

Dana murah tidak lahir dari suku bunga. Ia lahir dari keharusan. Seseorang menaruh saldo di sebuah rekening karena ia perlu rekening itu untuk membayar pemasok, menerima gaji, atau menyelesaikan transaksi yang memang akan ia lakukan hari itu juga. Bunga bukan alasan utamanya, jadi selisih 50 basis poin tidak memindahkannya.

Bank yang berada di jalur transaksi semacam itu mendapat dana murah sebagai produk sampingan dari kegunaannya. Bank yang tidak berada di jalur itu harus membelinya.

Bank Jago berada di jalur transaksi karena tertanam dalam ekosistem digital tempat nasabahnya sudah bertransaksi setiap hari. Dirut Arief Harris menyebut aplikasinya kini bukan sekadar tempat menabung dan bertransaksi, melainkan tempat menumbuhkan keuangan nasabah. Itu bahasa pemasaran — tetapi CASA 53% adalah angka akuntansi.

Bank pembangunan daerah berada di jalur transaksi lewat rute yang sama sekali berbeda: payroll pemerintah daerah, perdagangan lokal, dan penyaluran program seperti KUR dan FLPP. bank bjb, misalnya, mencatat portofolio pembiayaan berkelanjutan Rp14,2 triliun dan sustainable bond Rp1,9 triliun hingga triwulan I 2026, sambil melanjutkan pembiayaan UMKM, KUR, dan FLPP.

Dua rute, satu mekanisme yang sama. Keduanya menghasilkan dana yang tinggal karena nasabahnya membutuhkan rekening itu — bukan karena bunganya.

Kontan mencatat pola yang sama dari sisi analis: emiten bank digital yang ditopang ekosistem kuat relatif lebih kuat dalam menjaga performa bisnis dan keuangannya. Super Bank Indonesia (SUPA), misalnya, membukukan laba sebelum pajak Rp142 miliar hingga April 2026.

Sumbunya bukan piagam usahanya. Sumbunya adalah ada atau tidaknya arus transaksi di bawahnya.

Marginnya Pun Tidak Mengikuti Garis yang Diperkirakan

Ada dua rasio lain yang biasanya dipakai untuk memisahkan kedua kelompok ini, dan keduanya menarik untuk dilihat langsung.

Yang pertama margin bunga bersih. Asumsi umumnya adalah bank tanpa cabang menanggung margin yang tergerus karena harus membayar mahal untuk dananya. Angkanya: BBYB mencatat NIM 13,50% pada triwulan I 2026. Bank Jago mencatat NIM 8,3% pada triwulan III 2025, dengan CAR 48,21% dan NPL 0,4%.

Yang kedua rasio biaya terhadap pendapatan. Asumsi umumnya adalah biaya pemasaran bank digital membuat efisiensinya semu. Angkanya: CIR BBYB 32,93%, dengan BOPO 83,68%.

Margin yang tinggi itu punya sebab yang jujur untuk disebut: sebagian besar berasal dari pinjaman berimbal hasil tinggi, yang menanggung biaya kredit lebih besar juga. NIM 13,50% bukan hadiah gratis — ia kompensasi untuk risiko yang lebih tebal, dan yang menentukan hasil akhirnya adalah apakah biaya kreditnya tetap terkendali.

Tetapi arah angkanya tetap perlu dicatat apa adanya. Baik pada rasio dana murah, margin, maupun efisiensi biaya, sebarannya tidak jatuh di garis yang memisahkan bank digital dari bank daerah.

Angka Bank Daerahnya Sendiri Juga Terbelah

Bagian ini penting untuk kejujuran argumennya, karena kelompok bank daerah pun tidak seragam.

OJK mencatat total aset BPD mencapai Rp1.036,51 triliun hingga triwulan I 2026, tumbuh 3,2% secara tahunan. Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah, Syariah, dan Daerah OJK, Defri Andri, menyebut BPD masih memiliki ketahanan yang solid untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi saat ini.

Tetapi sebarannya lebar. BPD besar mencatat pertumbuhan positif — Bank Jatim dan bank bjb tercatat sebagai pencetak laba tertinggi pada triwulan I 2026. Sementara BPD yang masih dalam tahap berkembang menghadapi kesulitan memacu kinerja. Direktur Pemasaran BPD DIY, Raden Agus Trimurjanto, menyampaikan pertumbuhan kredit banknya belum sesuai target, dengan fokus tetap di segmen UMKM.

bank bjb sendiri, triwulan I 2026: laba bersih atribusi induk Rp410 miliar, tumbuh 13,3% secara kuartalan tetapi hanya 3% secara tahunan. Net Interest Income konsolidasi Rp2,05 triliun, tumbuh 13%. Total aset Rp221,81 triliun. DPK Rp159,91 triliun, tumbuh 4,56%, dengan CASA tumbuh 4,44%. Dan kredit konsolidasinya terkoreksi tipis 0,04%.

Letakkan angka itu berdampingan. Pada kuartal yang sama, kredit bank bjb bergerak −0,04% sementara kredit Bank Jago tumbuh 24%. Absolutnya jelas berbeda — Rp410 miliar laba melawan Rp86 miliar — tetapi arah pertumbuhannya berlawanan.

Jadi "bank daerah melakukan ekspansi kredit moderat" bukan gambaran yang berlaku merata. Sebagian melakukannya; sebagian sedang menahan diri.

Konsolidasinya Nyata, dan Namanya KUB

Satu perkembangan struktural yang sedang membentuk kelompok ini, dan ia bukan spekulasi.

Sejumlah BPD telah membentuk Kelompok Usaha Bank (KUB) untuk mendorong kinerja — sebuah struktur di mana bank yang lebih kecil bersinergi di bawah induk yang lebih besar. bank bjb menyebutnya secara eksplisit sebagai bagian dari strateginya: menjaga pertumbuhan bisnis lewat penguatan layanan, inovasi digital, dan sinergi dalam ekosistem KUB bank bjb.

Perhatikan kata yang dipakai bank daerah terbesar di Indonesia untuk menggambarkan strateginya sendiri: ekosistem.

Itu bukan kebetulan bahasa. Bank yang tidak punya arus transaksi sendiri sedang membangun atau menumpang satu — persis mekanisme yang sama, dari arah yang berlawanan.

Peta Mekanisme (Ilustratif): Sumber Dana, Bukan Peringkat

Tabel ini memetakan dari mana dana murah sebuah bank berasal, bukan peringkat kualitas maupun daya tarik. Angka adalah fakta publik per periode yang disebut. Bukan rekomendasi. DYOR.

Jalur arus transaksi Mekanisme yang bekerja Fakta publik triwulan I 2026
Ekosistem digital Saldo tinggal karena nasabah bertransaksi di aplikasi yang sama setiap hari ARTO: CASA 53% (Rp13,9 triliun dari DPK Rp26,4 triliun); DPK +23%; kredit +24% ke Rp25,2 triliun; laba Rp86 miliar (+42%); NPL gross 0,3% (pertengahan 2025)
Tanpa ekosistem transaksi Dana perlu dibeli lewat harga; komposisi diperbaiki lewat kapabilitas transaksi BBYB: CASA 30,34%; DPK Rp13,42 triliun (−1,97%); tabungan +8,62%, deposito −2,18%; laba Rp136,98 miliar; NIM 13,50%; CIR 32,93%; CAR 50,60%
Payroll dan perdagangan daerah Saldo tinggal karena rekeningnya dipakai untuk gaji dan operasional lokal BJBR: laba atribusi induk Rp410 miliar (+3% yoy); NII Rp2,05 triliun (+13%); DPK Rp159,91 triliun (+4,56%); CASA +4,44%; kredit konsolidasi −0,04%
Kelompok Usaha Bank (KUB) Bank tanpa arus sendiri bersinergi di bawah induk yang memilikinya Sejumlah BPD membentuk KUB untuk mendorong kinerja; bank bjb menyebut sinergi ekosistem KUB sebagai bagian strateginya
Agregat BPD Ketahanan kelompok tidak seragam antaranggotanya Total aset BPD Rp1.036,51 triliun (+3,2% yoy); BPD besar tumbuh positif sementara BPD berkembang kesulitan memacu kinerja
Program pemerintah Penyaluran KUR, FLPP, dan pembiayaan berkelanjutan menambah jalur arus bank bjb: pembiayaan berkelanjutan Rp14,2 triliun; sustainable bond Rp1,9 triliun

Sisi Lain

Argumen tandingannya nyata dan layak ditimbang serius.

Skala tetap berarti. Laba bank bjb Rp410 miliar hampir lima kali laba Bank Jago Rp86 miliar, dengan aset Rp221,81 triliun melawan Rp39,5 triliun. Pertumbuhan persentase dari basis kecil tidak setara dengan kemampuan menyerap guncangan dari basis besar.

Ekosistem juga bisa menjadi ketergantungan. Bank yang dananya bersumber dari satu ekosistem digital menanggung risiko konsentrasi pada kesehatan ekosistem itu. Bank daerah yang dananya bersumber dari payroll pemerintah daerah menanggung bentuk ketergantungan yang berbeda tetapi setara.

Dan CASA tinggi bukan jaminan apa pun sendirian. Ia menekan biaya dana, tidak menjamin kualitas aset. Dua bank dengan CASA identik bisa berakhir sangat berbeda tergantung disiplin penyaluran kreditnya — dan bagian kedua dari ujian ini justru yang paling sulit diverifikasi dari luar.

Kredit yang menahan diri bisa berarti disiplin, bukan kelemahan. Kredit bank bjb yang −0,04% pada kuartal ini bisa dibaca sebagai kehilangan momentum, atau sebagai pilihan sadar untuk tidak mengejar volume pada siklus yang sedang tidak pasti. Data satu kuartal tidak memisahkan keduanya.

Modernisasi teknologi tetap agenda nyata. Bank daerah yang tidak menutup jarak layanan digitalnya berisiko kehilangan generasi nasabah berikutnya — termasuk nasabah payroll-nya sendiri, yang suatu saat akan memilih ke mana gajinya berpindah setelah masuk rekening.

Kesimpulan: Tiga Pembeda

Pertama, bedakan ujiannya dari labelnya. Dana murah yang lengket ditambah disiplin penyaluran memang menentukan siapa yang bertahan — ujian itu benar. Tetapi ARTO mencatat CASA 53% dan BBYB 30,34% pada kuartal yang sama, keduanya bank digital. Selisih itu ada di dalam kelompoknya, bukan di antara kelompok.

Kedua, bedakan bunga dari keharusan. Dana murah lahir ketika nasabah membutuhkan rekening itu untuk transaksi yang tetap akan ia lakukan. Bank yang berada di jalur transaksi memperoleh dana murah sebagai produk sampingan; yang tidak, harus membelinya. Rutenya bisa aplikasi, bisa payroll daerah — mekanismenya identik.

Ketiga, bedakan kelompok dari anggotanya. Aset BPD Rp1.036,51 triliun tumbuh 3,2%, dan OJK menyebut ketahanannya solid. Tetapi BPD besar tumbuh sementara BPD berkembang kesulitan, dan bank daerah terbesar sendiri mencatat kredit −0,04% pada kuartal ketika sebuah bank digital tumbuh 24%.

Pertanyaan yang berguna tentang sebuah bank bukan apakah ia digital atau daerah. Pertanyaannya adalah: kalau bunga depositonya diturunkan 50 basis poin besok pagi, berapa banyak dananya yang tetap tinggal — dan mengapa.

Referensi

  • PT Bank Jago Tbk (ARTO). Laporan kinerja triwulan I 2026; keterangan Direktur Utama Arief Harris. Data DPK, CASA, kredit, aset, laba, dan jumlah nasabah.
  • PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB). Laporan kinerja triwulan I 2026; keterangan Direktur Utama Eri Budiono. Data DPK, CASA, NIM, CIR, BOPO, dan CAR.
  • PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR). Laporan kinerja triwulan I 2026; keterangan manajemen mengenai strategi KUB dan transformasi digital.
  • Otoritas Jasa Keuangan. (2026). Data agregat aset Bank Pembangunan Daerah triwulan I 2026; keterangan Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah, Syariah, dan Daerah, Defri Andri.
  • BPD Daerah Istimewa Yogyakarta — keterangan Direktur Pemasaran Raden Agus Trimurjanto mengenai pertumbuhan kredit dan fokus UMKM.
  • PT Super Bank Indonesia (SUPA) — laba sebelum pajak hingga April 2026.
  • Kontan, Bisnis Indonesia, CNBC Indonesia, EmitenNews, Stabilitas, Media Asuransi — pemberitaan kinerja perbankan digital dan BPD, 2025–2026.

Tulisan ini bertujuan edukasi dan bukan ajakan jual/beli. Seluruh emiten disebut sebagai ilustrasi mekanisme perbankan berdasarkan laporan keuangan publik, dinyatakan secara netral, dan bukan penilaian atas prospek perusahaan. Perbandingan antaremiten dengan skala berbeda memiliki keterbatasan, dan data satu triwulan tidak cukup untuk menyimpulkan tren. Data dapat berubah setelah tanggal publikasi. Lakukan riset mandiri (DYOR) dan pertimbangkan berkonsultasi dengan perencana keuangan berizin.