Simpul Kritis: Pengaruh Mineral Indonesia atas Harga Dunia, dan Kerentanan dari Sumber yang Sama

Simpul Kritis: Pengaruh Mineral Indonesia atas Harga Dunia, dan Kerentanan dari Sumber yang Sama

Pada 8 September 2025, sekitar 800 ribu ton material basah masuk ke tambang bawah tanah Grasberg Block Cave di Papua Tengah dan menewaskan tujuh pekerja.

Peristiwa itu menghasilkan dua akibat yang berjalan ke arah berlawanan. Ke luar, ia membalik ekonomi industri peleburan tembaga dunia, dan sepuluh bulan kemudian akibatnya masih terbaca pada neraca pabrik di China, Jepang, dan Spanyol. Ke dalam, ia membuat fasilitas pengolahan tembaga terbesar yang pernah dibangun Indonesia berdiri hampir setahun tanpa mengolah konsentrat.

Satu peristiwa, dua arah. Keduanya bersumber dari fakta yang sama: konsentrasi. Ketika pasokan sebuah komoditas terpusat pada sedikit lokasi, pemilik lokasi itu memperoleh pengaruh atas harga dunia sekaligus mewarisi seluruh risiko operasionalnya sendiri. Tulisan ini menelusuri kedua arah tersebut dengan data 2026.

Seberapa Besar Posisi Indonesia

Indonesia memasok sekitar 60% produksi tambang nikel dunia, dan sebagian estimasi industri menempatkannya sampai 65%. Grasberg memasok sekitar 3% produksi tambang tembaga dunia dan merupakan tambang tembaga terbesar kedua di planet ini. Untuk timah, Indonesia adalah produsen terbesar kedua setelah China dengan produksi tahunan sekitar 50 ribu ton. Untuk kobalt, Indonesia telah menjadi sumber terbesar kedua lewat produk antara nikel. Di bauksit, rantai alumina domestik baru mulai berjalan penuh pada 2026.

Empat rantai berbeda, satu negara. Itulah yang membuat peristiwa lokal di Indonesia berhenti menjadi berita lokal.


Arah Pertama: Ke Luar

Guncangan Kecelakaan: Ekonomi Peleburan Dunia Terbalik

PT Freeport Indonesia menghentikan operasi dan menyatakan keadaan kahar pada 24 September 2025. Hari itu harga tembaga kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) menyentuh US\$10.364 per ton, naik lebih dari 4% dalam satu hari. Produksi yang hilang diperkirakan sekitar 500 ribu ton selama 12–15 bulan, melebihi keluaran tahunan sebagian besar tambang kelas menengah.

Penjalarannya lewat satu mekanisme yang jarang dibahas di luar industri. Pabrik peleburan tembaga memperoleh pendapatan dari treatment and refining charges (TC/RC), biaya yang dibayar penambang untuk mengubah konsentrat menjadi logam. Dalam kondisi normal biayanya sekitar US\$45–65 per ton. Ketika konsentrat langka, angka itu turun karena pabrik peleburan bersaing memperebutkan bahan baku.

Pada Oktober 2025 biaya spot menyentuh minus US\$66,60 per ton. Pabrik peleburan membayar penambang untuk mendapatkan konsentrat, membalik hubungan komersial paling dasar dalam industri itu. Pada Desember 2025 patokan kontrak tahunan 2026 disepakati pada US\$0 per ton dan nol sen per pon, terendah sepanjang sejarah negosiasi, dari US\$21,25 per ton untuk 2025 yang sudah merupakan rekor rendah sebelumnya.

Dampaknya jatuh pada pihak yang tidak punya hubungan apa pun dengan Papua. Marjin industri peleburan bergeser dari positif 8–12% pada 2024 ke negatif 15–25% pada triwulan I 2026. Premi konsentrat naik dari kisaran US\$15–25 per ton ke US\$85–120 per ton. Kelompok pembelian 16 pabrik peleburan besar China menolak menetapkan panduan biaya untuk triwulan I 2026 — keempat kalinya berturut-turut — dan mengumumkan pemangkasan utilisasi di atas 10%. Jepang, Korea Selatan, dan Spanyol mengeluarkan pernyataan bersama. Satu produsen Jepang mengumumkan rencana mengurangi ketergantungan pada konsentrat dengan memperbanyak skrap.

Harga tembaga sendiri bergerak dari rekor US\$11.771 per ton pada 8 Desember 2025 ke kisaran US\$13.357–13.851 per ton pada pekan ketiga Juli 2026.

Satu detail menutup lingkarannya. Untuk meredakan sebagian kekurangan itu, pemerintah Indonesia menyetujui ekspor konsentrat tembaga dari tambang Batu Hijau selama enam bulan. Kekurangan yang lahir dari satu peristiwa di Indonesia sebagian ditambal oleh keputusan kebijakan Indonesia.

Guncangan Keputusan: Formulir yang Menetapkan Harga Global

Guncangan kedua tidak melibatkan kecelakaan apa pun.

Kuota produksi bijih nikel yang disetujui lewat Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk 2025 sebesar 379 juta ton, dengan realisasi produksi sekitar 320 juta ton. Pagu 2026 ditetapkan pada kisaran 260–270 juta ton. Terhadap kuota lama itu pemangkasan sekitar 30%; terhadap produksi aktual sekitar 17%. Masa berlaku izin produksi juga dipersingkat dari tiga tahun menjadi satu tahun. Tambang nikel terbesar di dunia, Weda Bay, menerima 12 juta ton basah untuk 2026 dari 42 juta ton pada 2025.

Tuas kedua bekerja lewat harga bijih. Melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 144.K yang berlaku 15 April 2026, persentase harga logam yang dipakai untuk Nickel Pig Iron naik dari 17% menjadi 30%, dan mineral ikutan seperti kobalt, besi, dan kromium masuk ke perhitungan harga bijih. Harga bijih naik 5–6%.

Harga nikel di LME bergerak dari sekitar US\$14.400 per ton pada Desember 2025, menembus US\$19.000 pada awal Juni 2026, dan berada di sekitar US\$17.280 pada 23 Juli 2026. Tidak ada tambang yang runtuh dan tidak ada pemogokan. Yang berubah adalah angka pada dokumen perizinan.

Perbedaan antara dua guncangan ini penting. Yang pertama adalah risiko yang ditanggung dunia karena memusatkan pasokan pada sedikit aset fisik. Yang kedua adalah kemampuan yang dimiliki negara pemasok ketika pangsanya cukup besar.

Guncangan Wacana: Harga yang Bergerak Sebelum Kebijakan Terbit

Timah menunjukkan tahap ketiga. Harga rata-rata timah LME pada triwulan I 2026 mencapai US\$48.679 per ton, naik 34,7% dari US\$36.134 pada periode yang sama 2025. Harga sempat menembus US\$53.000 pada Januari 2026 dan US\$57.425 pada awal Maret, lalu terkoreksi mendekati US\$41.000 pada pertengahan Maret.

Neraca fisiknya justru relatif seimbang: produksi logam timah dunia pada triwulan I 2026 tercatat 90.645 ton terhadap konsumsi sekitar 89.036 ton. Yang menggerakkan sebagian harga adalah wacana. Ketika kemungkinan Indonesia menghentikan ekspor timah batangan dibahas, satu lembaga riset menaikkan proyeksi harga 2026 dari US\$35.000 menjadi US\$45.000 per ton, dengan kisaran US\$45.000–60.000 apabila larangan benar-benar diberlakukan.

Pasar tidak menunggu kebijakannya terbit. Ia memberi harga pada kemungkinan kebijakan itu ada.


Arah Kedua: Ke Dalam

Pengaruh atas harga dunia dan kemampuan menangkap nilai dari harga itu adalah dua hal berbeda. Sepanjang 2026 ketiga rantai mineral Indonesia memberi tiga jawaban berbeda, dan pembedanya satu: seberapa erat kapasitas pengolahan terikat pada umpan bakunya.

Bauksit: Umpan Baku dan Pengolahan dalam Satu Rantai

Pada triwulan II 2026 realisasi investasi hilirisasi bauksit mencapai Rp40,1 triliun, naik 193% dari Rp13,7 triliun pada triwulan sebelumnya. Untuk pertama kalinya bauksit menjadi komoditas dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar di Indonesia, di atas nikel.

Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, berkapasitas satu juta ton alumina per tahun dan membutuhkan sekitar 3,3 juta ton bijih bauksit setiap tahun. Fasilitas ini dikembangkan Grup MIND ID melalui PT Indonesia Asahan Aluminium bersama PT Aneka Tambang Tbk lewat perusahaan patungan PT Borneo Alumina Indonesia, dengan porsi kepemilikan 60% dan 40%. Nilai investasi Fase I sekitar US\$831,5 juta, dengan 30% dari ekuitas dan 70% dari pinjaman. Peletakan batu pertama Fase II dilakukan pada Februari 2026 dengan nilai sekitar Rp14 triliun.

Yang membuat rantai ini berjalan adalah strukturnya. Bijihnya berasal dari tambang di dalam grup yang sama, dan keluarannya masuk ke fasilitas peleburan aluminium grup yang sama. Tidak ada titik serah yang bergantung pada pihak ketiga di antara tambang dan pabrik. Penjualan segmen bauksit dan alumina ANTM tumbuh 24% secara tahunan.

Tembaga: Kapasitas Terpasang Menunggu Konsentrat

Smelter Manyar di kawasan industri JIIPE, Gresik, adalah fasilitas pengolahan tembaga kedua milik PTFI dan tulang punggung program hilirisasi tembaga nasional. Sejak insiden Grasberg, smelter itu tidak memperoleh konsentrat yang cukup. Pada semester I 2026 tambang beroperasi di kisaran 50% kapasitas, dan pada tingkat itu seluruh konsentrat yang tersedia habis diserap PT Smelting, fasilitas pertama yang lebih dulu berdiri.

PTFI menargetkan Manyar mulai mengolah konsentrat pada Agustus 2026 dan berproduksi pada September, dengan sekitar 15% konsentrat dari Grasberg Block Cave dialokasikan bertahap sampai akhir tahun. Kapasitas penuh menunggu konsentrat penuh, dan pemulihan penuh tambang digeser ke awal 2028. Komisi XII DPR menegaskan kerugian akibat tidak tercapainya target produksi smelter adalah risiko bisnis perusahaan, bukan negara.

Pembandingnya ada di provinsi lain. Smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara di Sumbawa Barat sempat berhenti sejak akhir Juli 2025 akibat kerusakan pada flash converting furnace dan pabrik asam sulfat, dan memperoleh relaksasi ekspor konsentrat 480 ribu ton kering selama Oktober 2025 sampai April 2026. Setelah perbaikan, smelter itu kembali beroperasi penuh pada kapasitas 900 ribu ton konsentrat per tahun. Target katoda tembaga 2026 ditetapkan 162.662 ton, naik sekitar 104% dari realisasi 79.848 ton pada 2025, dengan realisasi triwulan II tercatat 48.756 ton kering.

Perbedaannya bukan teknologi dan bukan skala. Yang satu bahan bakunya berasal dari tambang di neraca yang sama; yang satu lagi bergantung pada satu tambang yang sedang pulih.

Litium: Relevansi dari Konversi

Endapan litium di Indonesia ditemukan dalam bentuk air asin, lempung, dan bittern sisa industri garam, dalam jumlah dan konsentrasi yang kecil. Kementerian ESDM menyatakan Indonesia tidak memiliki cadangan litium berarti.

Posisi Indonesia dalam rantai litium karena itu dibangun di tengah rantai: pabrik katoda di Morowali yang mengolah bahan impor, kesepakatan pasokan spodumen dari Australia, dan pabrik bahan anoda dengan rencana kapasitas gabungan 160 ribu ton per tahun setelah dua tahap selesai. Tanpa umpan baku domestik, yang bisa dibangun adalah kapasitas konversi dan posisi dalam rantai.


Titik Temu: Konsentrasi yang Sama Menghasilkan Keduanya

Grasberg adalah contoh paling ringkas karena kedua arah bertemu di satu peristiwa. Kehilangan 500 ribu ton konsentrat membuat pabrik peleburan di tiga benua kehilangan marjin — itu bukti pengaruh. Kehilangan yang sama membuat smelter terbesar Indonesia menganggur hampir setahun — itu bukti kerentanan. Tidak ada trade-off di antara keduanya; keduanya adalah konsekuensi dari fakta tunggal bahwa produksi terpusat.

Implikasinya untuk membaca angka: pangsa pasar yang besar mengukur pengaruh, sedangkan struktur kepemilikan rantai mengukur ketahanan. Nikel memberi Indonesia pengaruh besar dan, lewat kepemilikan tambang oleh pemilik smelter, ketahanan yang relatif baik. Bauksit memberi pengaruh kecil tetapi ketahanan tinggi. Tembaga memberi pengaruh besar dengan ketahanan yang terbukti rapuh. Litium tidak memberi pengaruh sama sekali, dan justru karena itu tidak menimbulkan kerentanan dari sisi pasokan domestik.

Transmisi Jangka Pendek: Hitungan Bulan

Ke luar, urutannya selalu sama. Harga bergerak lebih dulu, sering dalam hitungan jam. Kemudian bahan baku fisik menjadi langka di titik yang jauh dari sumber gangguan. Lalu pembeli industri mencari jalan memutar — skrap, konsentrat alternatif, pemasok lain — dan setiap jalan memutar menambah biaya.

Ke dalam, dampaknya terbelah menurut struktur. Penambang dengan volume utuh menikmati harga yang naik: PT Timah membukukan pendapatan Rp5,47 triliun pada triwulan I 2026, naik 160,5%, dengan harga jual rata-rata naik 51%. Pemilik kapasitas pengolahan yang umpan bakunya terganggu menanggung beban tetap tanpa keluaran. Vale Indonesia menunjukkan bentuk ketiga: produksi nikel matte turun ke 13.620 ton pada triwulan I 2026 sementara laba bersihnya naik 85% secara kuartalan karena harga jual lebih tinggi. Volume turun, nilai naik.

Sampai Juni 2026 konsumsi bijih nikel domestik tercatat 120,06 juta ton, sekitar 46,2% dari kuota yang disetujui, dan sebagian fasilitas di Sulawesi serta Maluku Utara beroperasi di bawah kapasitas optimal.

Transmisi Jangka Panjang: Hitungan Tahun

Konsentrasi memanggil jawaban dari sisi lawan.

Diversifikasi pasokan. Harga nikel di kisaran US\$18.000–20.000 per ton membuat proyek di Kanada dan Australia kembali layak dihitung. Setiap periode harga tinggi yang lahir dari gangguan di satu negara membiayai pencarian pasokan di negara lain.

Substitusi material. Baterai Lithium Iron Phosphate yang tidak memakai nikel kini memasok hampir separuh pasar mobil listrik dunia, dan pangsa katoda berbasis nikel di China turun ke 18% pada sembilan bulan pertama 2025 dari 25% pada 2024. Produsen yang beralih ke skrap tembaga tidak kembali sepenuhnya ke konsentrat ketika pasokan pulih. Pergeseran yang lahir dari kelangkaan cenderung bertahan sesudahnya.

Struktur industri. Patokan TC/RC nol memaksa peleburan di luar China menimbang ulang kelayakan usahanya, sementara China menguasai lebih dari 50% kapasitas pemurnian tembaga dunia. Industri yang terbentuk setelah guncangan ini kemungkinan lebih terkonsentrasi, bukan kurang.

Basis cadangan. Sumber daya bijih nikel nasional sekitar 17,38 miliar ton dengan cadangan sekitar 5,31 miliar ton, dan rasio cadangan terhadap sumber daya baru sekitar 30,5%. Cadangan saprolit kadar tinggi menjadi kendala yang mengikat lebih dulu daripada limonit.

Untuk urutan pembangunan di dalam negeri, 2026 memberi satu ukuran konkret: satu peristiwa di satu tambang menahan fasilitas hilir terbesar selama kurang lebih satu tahun. Keputusan investasi berikutnya akan menimbang keterikatan umpan baku sejak awal, bukan sesudah fasilitas berdiri. Kapasitas katoda yang belum terpakai pun menjadi pilihan nyata bagi pemilik sumber daya tembaga tanpa fasilitas sendiri, karena membangun pengolahan tembaga dari nol memerlukan sekitar tiga tahun.

Peta Rantai Nilai (Ilustratif): Mekanisme, Bukan Peringkat

Setiap baris memuat fakta di kedua sisi. Tidak ada urutan.

Mineral Pengaruh ke luar Ketahanan ke dalam Peredam yang ada
Nikel Sekitar 60% produksi tambang dunia; kuota mengubah harga LME dalam hitungan pekan Smelter umumnya terikat pada tambang di grup yang sama Persediaan LME sekitar 274 ribu ton; sekitar 80% produksi dunia bukan barang serah LME
Tembaga Grasberg sekitar 3% produksi dunia; hilangnya konsentrat menekan marjin peleburan lintas benua Manyar menganggur hampir setahun; Amman dengan tambang sendiri kembali penuh Skrap, konsentrat alternatif, persediaan tampak sekitar 1,18 juta ton
Timah Produsen kedua terbesar; wacana kebijakan masuk ke proyeksi harga Ekspor menyerap 97% penjualan, sehingga sensitif pada kebijakan ekspor Neraca produksi dan konsumsi triwulan I 2026 relatif seimbang
Bauksit Belum menjadi sumber guncangan global Bijih, alumina, dan peleburan berada dalam satu grup Pasokan bauksit dunia lebih tersebar dibanding nikel
Litium Tidak ada pengaruh dari sisi pasokan Bahan baku diimpor sehingga terpapar pemasok luar Sumber spodumen tersedia dari beberapa negara

Peta Emiten (Ilustratif): Posisi dalam Rantai

Peta di atas menyusun mekanisme per mineral. Peta ini menyusun emiten yang berdiri di dalam mekanisme itu. Disebut sebagai konteks, bukan rekomendasi, dan setiap baris memuat fakta di kedua sisi.

Entitas Posisi dalam rantai Fakta yang menopang Fakta yang menekan
ANTM (Aneka Tambang) Bauksit hulu dan alumina lewat patungan SGAR SGAR Fase I operasi penuh 2026 dengan target satu juta ton alumina; segmen bauksit dan alumina tumbuh 24% secara tahunan Porsi kepemilikan 40% dalam patungan; Fase II baru dimulai Februari 2026 dan belum berkontribusi
AMMN (Amman Mineral Internasional) Tambang tembaga-emas dengan smelter sendiri Smelter kembali penuh pada kapasitas 900 ribu ton konsentrat; target katoda 162.662 ton pada 2026 Smelter sempat berhenti sejak akhir Juli 2025 karena kerusakan tanur; target 2026 jauh di atas realisasi 79.848 ton
INCO (Vale Indonesia) Nikel matte dengan bijih dari tambang sendiri Laba triwulan I 2026 naik 85% secara kuartalan; pinjaman berbasis keberlanjutan US\$750 juta Produksi matte turun ke 13.620 ton; biaya tunai naik ke US\$10.382 per ton
MDKA (Merdeka Copper Gold) Sumber daya tembaga besar tanpa fasilitas pengolahan sendiri Tujuh Bukit sekitar 1.706 juta ton bijih berkadar 0,47% dengan kandungan 8,1 juta ton tembaga Masih praproduksi; studi kelayakan ditargetkan selesai paruh kedua 2026
TINS (Timah) Tambang dan peleburan timah terintegrasi Pendapatan triwulan I 2026 naik 160,5% ke Rp5,47 triliun; harga jual rata-rata naik 51% Ekspor menyerap 97% penjualan sehingga sangat terpapar kebijakan ekspor
PTFI (Freeport Indonesia, tidak tercatat di bursa) Tambang Grasberg dan dua fasilitas peleburan Smelter Manyar ditargetkan mengolah konsentrat mulai Agustus 2026 Kapasitas tambang sekitar 50% pada semester I 2026; pemulihan penuh awal 2028

Catatan entitas: Indonesia Battery Corporation bukan emiten Bursa Efek Indonesia, dan Pelindo bukan entitas tercatat. Kemitraan sel baterai di Karawang berjalan lewat entitas patungan Hyundai–LG.

Sisi Lain

Ketergantungan itu berjalan dua arah, dan bagian ini jarang masuk ke narasi kekuatan.

Belerang, bahan baku inti proses High Pressure Acid Leaching untuk nikel kelas baterai, naik dari sekitar US\$150 per ton menjadi di atas US\$1.000 per ton dalam kurang lebih 18 bulan, dan sebagian besar diimpor. Litium tidak tersedia dalam jumlah berarti di dalam negeri. Sebagian besar teknologi dan modal fasilitas pengolahan nikel berasal dari mitra asing. Harga acuannya pun tidak ditetapkan di sini: nikel, tembaga, dan timah dihargai di London.

Neraca pasokannya juga belum disepakati. International Nickel Study Group memproyeksikan defisit 32 ribu ton untuk 2026, berbalik dari surplus 283 ribu ton pada 2025, sementara sejumlah analis lain tetap melihat surplus yang bisa mencapai 261 ribu ton. Perbedaan itu lahir dari definisi: nikel kelas dua untuk baja nirkarat berlimpah, sedangkan bahan baku baterai jauh lebih ketat.

Angka investasi triwulanan perlu dibaca sesuai isinya. Rp40,1 triliun adalah belanja konstruksi, bukan laba, dan manfaat smelter memerlukan waktu panjang sebelum berkontribusi penuh. Angka itu bisa berarti awal dari rangkaian belanja bertahun-tahun, atau puncak siklus konstruksi yang tidak berulang.

Terakhir, pengaruh sebuah simpul kritis bekerja paling kuat dalam hitungan bulan dan melemah seiring waktu ketika pembeli menemukan jalan lain. Posisi ini memberi daya tawar, bukan kendali.

Titik Data yang Menguji Kesimpulan Ini

Kesimpulan yang saya pegang: konsentrasi pasokan mineral kritis di Indonesia sudah cukup besar sehingga satu peristiwa domestik berpindah menjadi harga dunia dalam hitungan hari, sementara arah sebaliknya membutuhkan bertahun-tahun — dan konsentrasi yang sama menentukan seberapa besar nilai yang tertahan di dalam negeri.

Beberapa titik data akan mengujinya.

Patokan biaya olah tembaga. Angka tahunan bergerak dari US\$21,25 per ton ke nol. Kembalinya ke wilayah positif menandakan pasokan konsentrat pulih; bertahan di nol atau negatif menandakan kerusakan strukturnya lebih panjang dari satu tambang.

Kapasitas Grasberg Block Cave pada semester II. Target 65%, dengan pemulihan penuh awal 2028. Realisasi di bawah target memperpanjang kekurangan konsentrat global sekaligus menunda Smelter Manyar.

Restart Manyar. Target mengolah konsentrat pada Agustus 2026 dan berproduksi pada September adalah tenggat terdekat untuk seluruh tesis arah kedua.

Hasil revisi RKAB nikel. Periode pengajuan berlangsung sepanjang Juli 2026. Pagu final adalah pembacaan langsung atas seberapa jauh tuas kuota akan dipakai.

Keputusan ekspor timah batangan. Kebijakan yang benar-benar terbit menguji apakah kisaran US\$45.000–60.000 per ton itu tepat, atau apakah pasar sudah menghargai kemungkinannya secara berlebihan.

Keluaran alumina SGAR Fase I. Target sekitar satu juta ton pada tahun operasi penuh pertama. Selisih antara kapasitas terpasang dan keluaran nyata adalah ukuran paling jujur untuk arah kedua.

Pangsa baterai tanpa nikel. Kenaikan lebih jauh melewati separuh pasar mobil listrik dunia mengurangi sebagian pengaruh Indonesia atas rantai baterai tanpa perlu ada tambahan pasokan nikel dari mana pun.


Tulisan ini adalah edukasi dan analisis data, bukan rekomendasi atau ajakan jual/beli. Emiten dan entitas disebut sebagai konteks mekanisme industri, bukan saran investasi. Lakukan riset mandiri (DYOR) dan pertimbangkan profil risiko masing-masing.

Referensi:

  • Freeport-McMoRan dan PT Freeport Indonesia, keterangan insiden dan pemulihan Grasberg serta Smelter Manyar, September 2025 – Juni 2026.
  • London Metal Exchange, harga resmi tembaga, nikel, dan timah, 2025–2026.
  • Benchmark Mineral Intelligence, analisis neraca tembaga; CRU Group, Tin Monitor triwulan I 2026.
  • China Smelters Purchase Team, keputusan panduan biaya pengolahan triwulan I 2026.
  • Kementerian ESDM, kuota RKAB, Keputusan Menteri Nomor 144.K tahun 2026 tentang Harga Patokan Mineral, dan kebijakan ekspor konsentrat.
  • Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), laporan industri nikel Juli 2026.
  • Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi hilirisasi triwulan II 2026.
  • MIND ID, PT Indonesia Asahan Aluminium, dan PT Borneo Alumina Indonesia, keterangan proyek SGAR Mempawah.
  • PT Amman Mineral Nusa Tenggara, PT Timah Tbk, PT Vale Indonesia Tbk, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk, laporan kinerja triwulan I dan II 2026.
  • International Nickel Study Group, neraca nikel 2025–2026; International Energy Agency, Global EV Outlook 2026.
  • BMI (Fitch Solutions), proyeksi harga timah 2026; Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, proyek bahan anoda baterai litium-ion.