Menakar Mutu Laba di Balik Kelipatan Murah

Menakar Mutu Laba di Balik Kelipatan Murah

Rasio harga terhadap laba adalah pecahan. Ia punya pembilang dan penyebut, dan keduanya bergerak sendiri-sendiri. Ketika angkanya turun, yang pertama perlu saya ketahui adalah bagian mana yang bergerak — karena kelipatan yang menyusut sebab harga jatuh punya arti yang sama sekali berbeda dari kelipatan yang menyusut sebab laba melonjak.

Sepanjang 2026 berjalan, Indeks Harga Saham Gabungan ditutup di 6.401,888 pada 14 Agustus, turun 25,96 persen sejak awal tahun. Pada saat yang sama, laba inti emiten yang dipantau CGS International Sekuritas bergerak dari tumbuh 3 persen pada kuartal I menjadi 26 persen pada kuartal II. Penyebutnya naik. Seluruh kompresi kelipatan berasal dari sisi harga.

Itu membuat pertanyaan tentang mutu laba menjadi lebih tajam, bukan lebih tumpul. Kalau harga sudah menyesuaikan diri dan laba yang dilaporkan masih tumbuh, maka yang menentukan arah berikutnya adalah apakah laba itu bertahan — dan, seperti yang saya temukan setelah membuka laporan semester I 2026 satu per satu, garis laba mana yang sedang dibaca orang.

Dua Sumbu dalam Satu Rasio

Aritmetikanya sederhana dan bisa dihitung ulang siapa saja. Perubahan kelipatan sama dengan (1 + perubahan harga) dibagi (1 + pertumbuhan laba), dikurangi satu.

Dengan perubahan harga −25,96 persen sepanjang tahun berjalan:

Asumsi pertumbuhan laba 2026 Perubahan kelipatan
0 persen −25,96%
3 persen (laba inti kuartal I) −28,12%
7,5 persen (proyeksi setahun DBS) −31,13%
26 persen (laba inti kuartal II) −41,24%

Pada proyeksi DBS, kelipatan menyusut 31,13 persen — lebih dalam daripada indeksnya sendiri. Pengali dasarnya: di sekitar titik itu, setiap tambahan 1 poin persentase pertumbuhan laba menambah kompresi kelipatan sebesar 0,64 poin persentase. Model ini mengecualikan perubahan komposisi indeks, pencatatan saham baru, pergeseran free float, dan perbedaan antara laba dua belas bulan terakhir dengan laba proyeksi.

Sebagai uji, dua kutipan kinerja tahun berjalan dari tanggal berbeda merekonstruksi titik awal tahun yang sama: penutupan 6.267,880 pada 11 Agustus dengan kinerja −27,51 persen, dan penutupan 6.401,888 pada 14 Agustus dengan kinerja −25,96 persen, keduanya mengarah ke 8.646,5 poin. Selisihnya nol.

Posisi Kelipatan Hari Ini

Pada akhir Juli 2026, IHSG diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba 12,68 kali dengan rasio harga terhadap nilai buku 1,66 kali, di atas kapitalisasi Rp10.923 triliun. Dari dua angka itu bisa diturunkan laba agregat tersirat sebesar Rp861,4 triliun dan nilai buku agregat Rp6.580,1 triliun. Imbal hasil ekuitas tersiratnya 13,09 persen — dan pembagian 1,66 dibagi 12,68 mendarat di angka yang persis sama, sehingga identitasnya tertutup penuh.

Pada basis laba proyeksi, kelipatan berada di sekitar 10 kali, atau sekitar dua standar deviasi di bawah rerata lima tahun. Ciptadana Sekuritas mencatat level itu jarang muncul di luar periode krisis.

Yang paling menonjol bagi saya adalah asimetri revisi. Mirae Asset Sekuritas memangkas target akhir 2026 dari 10.500 ke 6.800, turun 35,24 persen. Ciptadana memangkas dari 8.960 ke 7.780, turun 13,17 persen. Pada rentang waktu yang berdekatan, DBS hanya memangkas proyeksi pertumbuhan laba dari 7,8 ke 7,5 persen — selisih 0,3 poin persentase. Revisi besar terjadi pada kelipatan yang bersedia dibayar pasar, sementara ekspektasi laba nyaris tidak bergerak.

Penyebut yang Bergerak Naik

Laba inti adalah laba setelah pos sekali jadi dikeluarkan, dan itulah ukuran yang dipakai CGS International. Pada semester I 2026, hanya 18 persen emiten pantauannya meleset dari ekspektasi pasar — proporsi terendah dalam tiga tahun.

Komposisi pertumbuhannya penting. Penopang utamanya adalah pertanian serta minyak dan gas. INCO membukukan kenaikan laba 313,4 persen secara tahunan, CUAN 919,58 persen, INDY 354 persen. Sektor bank dan jasa keuangan bergerak dari 11 ke 14 persen, barang konsumsi dari 10 ke 25 persen.

Artinya percepatan laba agregat 2026 bertumpu pada harga komoditas — komponen yang paling terikat siklus. Menyebut penyebut sebagai satu angka menyembunyikan hal itu.

Dan ada kasus yang berjalan ke arah sebaliknya. Laba bersih INDF turun 19 persen pada semester I 2026 karena rugi selisih kurs, sementara laba operasionalnya justru naik 14 persen. Di sini laba yang dilaporkan lebih rendah daripada bisnis yang berjalan di baliknya. Distorsi pos sekali jadi bekerja dua arah, dan pada 2026 arah yang menekan ke bawah sama seringnya dengan yang mengangkat ke atas.

Lima Ukuran Laba dalam Satu Laporan

Bank Mandiri memberi contoh paling bersih. Untuk semester I 2026, perseroan melaporkan lima angka laba, seluruhnya diungkapkan di laporan yang sama:

Garis laba Nilai Pertumbuhan
Laba diatribusikan ke pemilik entitas induk Rp30,41 triliun 24,40%
Laba bersih konsolidasi Rp31,63 triliun 17,80%
Laba operasional sebelum pencadangan Rp43,80 triliun 19,90%
Laba operasional Rp39,06 triliun 16,80%
Total penghasilan komprehensif Rp27,97 triliun

Jarak antara dua garis teratas adalah 6,60 poin persentase, dan sebabnya diungkapkan: laba kepentingan nonpengendali turun dari Rp2,40 triliun ke Rp1,21 triliun, susut 49,58 persen, setelah Bank Syariah Indonesia tidak lagi dikonsolidasikan sejak Februari 2026. Laba yang tidak lagi dibagi ke pemegang saham minoritas muncul sebagai pertumbuhan pada garis atribusi induk.

Garis terbawah adalah yang paling jarang dikutip. Total penghasilan komprehensif Rp27,97 triliun berada Rp3,66 triliun di bawah laba bersih konsolidasi, dan selisih itu persis sama dengan beban penghasilan komprehensif lain yang dilaporkan. Pengurangan 31,63 dikurangi 3,66 mendarat tepat di 27,97. Identitasnya tertutup penuh.

Pendorong pertumbuhannya juga perlu dibaca apa adanya. Pendapatan bunga dan syariah neto turun dari Rp52,38 triliun ke Rp47,84 triliun, sementara beban bunga turun lebih cepat, dari Rp29,19 triliun ke Rp25,06 triliun. Pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai turun dari Rp6,44 triliun ke Rp5,49 triliun. Beban operasional turun 1,4 persen dan rasio biaya terhadap pendapatan membaik ke 37,9 persen. Laba tumbuh dari efisiensi, pendapatan nonbunga, dan pencadangan yang lebih ringan.

Satu catatan pembanding: angka semester I 2025 masih memuat Bank Syariah Indonesia, sehingga perbandingan tahunan bank ini belum setara sampai basisnya seragam. Aset konsolidasi turun ke Rp2.527,57 triliun dari Rp2.829,95 triliun karena alasan yang sama, dan penyertaan saham naik dari Rp2,35 triliun ke Rp28,88 triliun.

Jarak Terlebar Ada di BNI

Kalau Bank Mandiri menunjukkan lima garis yang berbeda tipis, BNI menunjukkan dua garis yang berbeda jauh.

Laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk mencapai Rp10,76 triliun pada semester I 2026, tumbuh 6,56 persen dari Rp10,09 triliun. Total laba komprehensif pada periode yang sama Rp5,96 triliun, turun 50,88 persen dari Rp12,14 triliun.

Jaraknya 57,44 poin persentase, di laporan yang sama, untuk periode yang sama.

Pemisahnya satu pos: rugi komprehensif lain setelah pajak sebesar Rp4,84 triliun, berbalik dari posisi untung Rp1,98 triliun setahun sebelumnya — ayunan Rp6,82 triliun. Sumbernya adalah perubahan nilai wajar aset keuangan, yaitu portofolio surat berharga yang dicatat lewat ekuitas.

Sisi operasionalnya sendiri bergerak wajar. Pendapatan bunga naik 14,92 persen ke Rp38,63 triliun, beban bunga naik 15,94 persen ke Rp16,34 triliun, dan pendapatan bunga bersih tumbuh 13,95 persen ke Rp22,29 triliun. Marjin bunga bersih turun ke 3,55 persen dari 3,83 persen. Beban pencadangan naik 42,10 persen ke Rp5,38 triliun. Rasio kredit berisiko justru membaik, turun ke 8,1 persen dari 11 persen.

Jadi bank ini memperbesar pencadangan pada saat kualitas kreditnya membaik, dan menanggung penurunan nilai portofolio surat berharganya di ekuitas. Dua-duanya menekan angka yang dilaporkan ke bawah. Tidak satu pun mengangkatnya ke atas.

Rantai dari BI Rate ke Ekuitas

Pos nilai wajar itu bukan kejadian acak. Ia ujung dari rantai yang bisa ditelusuri langkah demi langkah dengan angka.

Langkah satu. BI Rate naik 100 basis poin, dari 4,75 ke 5,75 persen, antara Mei dan pertengahan Juni 2026.

Langkah dua. Imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun bergerak dari 6,05 persen pada 31 Desember 2025 ke puncak 7,28 persen. Kenaikan 123 basis poin atas kenaikan acuan 100 basis poin — rasio transmisi 1,23 kali.

Langkah tiga. Harga obligasi bergerak berlawanan dengan imbal hasilnya. Indonesia Composite Bond Index ditutup di 433,16 pada Maret 2026, terkoreksi 2,03 persen dalam sebulan.

Langkah empat. Bank memegang SBN dalam jumlah besar, sebagian dicatat pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain. Ketika harga pasarnya turun, nilai tercatatnya ikut turun.

Muaranya. Penurunan itu tidak melewati laporan laba rugi. Ia mendarat langsung di ekuitas. Laba bersih tetap tumbuh; total laba komprehensif turun. Pada BNI selisihnya 57,44 poin persentase, pada Bank Mandiri Rp3,66 triliun.

Rantai yang sama menjelaskan mengapa kenaikan suku bunga terasa lebih cepat di neraca daripada di laporan laba rugi. Bunga kredit menyesuaikan diri secara bertahap mengikuti jadwal penetapan ulang, sementara harga pasar surat berharga menyesuaikan diri pada hari yang sama.

Peta Empat Bank: Selisih dan Pos yang Menutupnya

Peringkat berikut disusun menurut satu kriteria yang diungkapkan sendiri oleh tiap bank di laporan semester I 2026: selisih antara pertumbuhan pendapatan bunga bersih dan pertumbuhan laba bersih, serta pos yang menutup selisih itu. Kriteria ini dipilih karena keduanya dilaporkan dan dapat diperiksa. Kolom terakhir mencatat pos yang diungkapkan, bukan proyeksi.

Bank Laba bersih Pendapatan bunga bersih Selisih Pos yang menutupnya
BMRI 24,40% −8,67% 33,07 pp Pencadangan susut ke Rp5,49 triliun, beban operasional −1,4%, laba minoritas −49,58%
BBTN 40,80% −8,00% 48,80 pp Beban provisi −61%, biaya kredit −130 basis poin
BBNI 6,56% 13,95% −7,39 pp Beban pencadangan +42,10% ke Rp5,38 triliun
BBCA 1,80% −0,60% 2,40 pp Pendapatan nonbunga +11% ke Rp13,2 triliun

Empat bank, empat pos berbeda yang menutup selisihnya, dan arahnya tidak seragam: dua bank melepas pencadangan, satu bank menambah pencadangan, satu bank bersandar pada pendapatan nonbunga. Sektor ini tidak bergerak sebagai satu blok, sehingga kesimpulan tentang mutu laba tidak bisa diambil di tingkat sektor.

BBRI dikeluarkan dari peta ini. Sampai pertengahan Agustus 2026, laporan semester I-nya belum terbit. Angka kuartal I yang tersedia — laba Rp15,5 triliun tumbuh 14 persen, pendapatan bunga bersih naik 12 persen, marjin bunga bersih 8,2 persen, biaya kredit turun ke 3,3 dari 3,8 persen — tidak setara dengan angka setengah tahun milik bank lain, dan saya memilih tidak mencampurnya.

Konteks pendanaan melengkapi peta itu. Rasio dana murah Bank Mandiri bergerak dari 76,6 ke 69,2 persen. BCA bertahan di 84,3 persen, dengan dana murah tumbuh 10,2 persen melampaui pertumbuhan simpanan 7,9 persen, dan kredit menembus Rp1.036 triliun untuk pertama kalinya.

Properti: Akad dan Serah Terima

Sektor properti memperlihatkan mekanisme yang sama dengan penanggalan yang berbeda.

Prapenjualan tercatat saat akad. Pendapatan menunggu serah terima unit, yang jaraknya bisa satu sampai dua tahun. Beban bunga berjalan sejak hari pertama. Tiga arus kas itu tidak pernah bertemu di kuartal yang sama.

Akibatnya terbaca langsung pada semester I 2026:

Emiten Prapenjualan Laba bersih Capaian konsensus
SMRA Rp2,5 triliun, +17% Rp332 miliar, −34% 41%
CTRA Rp4,69 triliun, −18% Sejalan konsensus
BSDE Rp2,54 triliun kuartal I, +5% Rp604 miliar, −53% 24%
PWON Rp1,00 triliun, −11% 41%

SMRA adalah kasus paling jelas: pesanan naik 17 persen sementara laba tercatat turun 34 persen. Dua angka itu bergerak berlawanan arah sejauh 51 poin persentase, di laporan yang sama, dan penyebab utamanya adalah kenaikan beban bunga. CTRA berjalan terbalik: marketing sales turun 18 persen namun labanya tetap sejalan dengan konsensus, dan capaian itu sudah menggenapi 49 sampai 52 persen target setahun.

Dua rumah riset membaca angka CTRA yang sama secara berbeda. Phintraco Sekuritas mengaitkan penurunannya pada basis penjualan tahun sebelumnya yang tinggi. CGS International mengaitkannya pada pelemahan daya beli di segmen menengah dan menengah bawah. Perbedaan pembacaan itu sendiri adalah temuannya — satu angka, dua sebab yang diajukan, dan keduanya belum bisa dipisahkan dari data yang terbit.

Di tingkat sektor, laba semester I sekitar Rp3 triliun, turun 27 persen secara tahunan, meski kuartal II naik 21 persen dibanding kuartal sebelumnya ke Rp1,7 triliun. Capaiannya baru 38 persen dari konsensus setahun, di bawah rerata tiga tahun sebesar 52 persen pada titik waktu yang sama.

Sisi Kebijakan yang Berjalan Berlawanan

Dukungan fiskal untuk sektor ini justru sedang berjalan penuh. PMK 90/2025 melanjutkan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah sebesar 100 persen atas bagian harga sampai Rp2 miliar, untuk rumah tapak dan rumah susun berharga jual maksimal Rp5 miliar, satu unit per orang, sampai 31 Desember 2026. Unitnya wajib memiliki kode identitas rumah yang terdaftar di Kementerian Pekerjaan Umum atau BP Tapera.

Fasilitas ini berada pada besaran penuh, bukan besaran yang dikurangi. Sepanjang 2025 sempat berlaku skema separuh sebelum PMK 60/2025 mengembalikannya ke 100 persen untuk Juli sampai Desember 2025, dan PMK 90/2025 meneruskannya sepanjang 2026.

Dua kebijakan karenanya bekerja berlawanan arah pada neraca pengembang yang sama. Insentif pajak menggerakkan prapenjualan hari ini; kenaikan BI Rate 100 basis poin menaikkan beban bunga hari ini juga. Yang pertama baru muncul di laporan laba rugi setelah serah terima. Yang kedua sudah muncul sekarang. Itu sebabnya laba tercatat sektor ini bisa turun 27 persen pada saat pesanan di beberapa emiten justru naik.

Transmisi Jangka Pendek

Dalam hitungan kuartal, lima hal sudah punya penanda yang bisa diperiksa pada rilis berikutnya.

Manajemen BCA menyebut imbal hasil asetnya menyentuh titik terendah pada kuartal II 2026 dan mulai pulih pada paruh kedua. Penjelasannya: tekanan marjin berasal dari dampak tertunda pemangkasan BI Rate sepanjang 2025 yang menekan imbal hasil aset, sehingga kenaikan suku bunga 2026 justru bekerja ke arah yang menopang marjin.

Manajemen Bank Mandiri memperkirakan tekanan marjin berlanjut sampai kuartal III sebelum berpotensi stabil, dengan sasaran biaya kredit dipertahankan pada 0,6 sampai 0,8 persen dan rasio biaya terhadap pendapatan pada 39 sampai 41 persen.

Arah pencadangan berbeda antaremiten dan itu akan terus terbaca kuartal per kuartal: BNI menaikkan 42,10 persen, BTN memangkas 61 persen, Bank Mandiri menurunkan pembentukannya ke Rp5,49 triliun, seluruhnya pada periode yang sama.

Pos nilai wajar bergantung pada satu angka yang bisa dipantau harian. Imbal hasil SBN 10 tahun sudah turun ke 7,151 persen pada 13 Agustus dari puncak 7,28 persen. Setiap penurunan imbal hasil mengangkat kembali nilai tercatat portofolio dan menyempitkan jarak antara laba bersih dan laba komprehensif.

Pada properti, capaian target prapenjualan setengah tahun sudah terbaca: CTRA di 49 sampai 52 persen, SMRA di 49 persen.

Transmisi Jangka Panjang

Pada rentang tahun, tiga perubahan menyentuh komposisi laba yang dilaporkan.

Struktur grup berubah. Bank Syariah Indonesia keluar dari konsolidasi Bank Mandiri sejak Februari 2026. Efeknya bukan sekali jadi: setiap perbandingan tahunan bank itu akan menyeret basis yang tidak setara sampai empat kuartal berlalu, dan komposisi labanya bergeser dari laba operasional anak usaha ke pendapatan penyertaan.

Mesin kredit bergeser. BRI memindahkan mesin pertumbuhannya dari mikro dan konsumer ke korporasi dan komersial. Perpindahan itu mengubah profil marjin secara struktural: kredit mikro membawa imbal hasil tinggi dengan biaya kredit tinggi, kredit korporasi sebaliknya. Marjin bunga bersih 8,2 persen milik BRI berasal dari campuran lama, dan campuran itu sedang berubah.

Struktur pendanaan bergeser. Rasio dana murah Bank Mandiri turun 7,4 poin persentase ke 69,2 persen sementara BCA bertahan di 84,3 persen. Selisih itu menentukan berapa cepat biaya dana tiap bank menyesuaikan diri pada siklus suku bunga berikutnya, dan ia bergerak dalam hitungan tahun, bukan kuartal.

Ketiganya punya sifat yang sama: mereka mengubah arti angka laba, bukan hanya besarnya. Pembaca yang membandingkan kelipatan antarbank tanpa menyesuaikan ketiga hal ini sedang membandingkan pecahan dengan penyebut yang disusun berbeda.

Sisi Lain

Angka yang sama menopang bacaan ke arah berlawanan, dan lima di antaranya berdiri di atas data yang sudah terbit.

Laba melampaui ekspektasi lebih sering daripada meleset. Hanya 18 persen emiten pantauan CGS International yang meleset pada semester I — proporsi terendah dalam tiga tahun.

Kerugian nilai wajar belum terealisasi. Surat berharga yang dipegang sampai jatuh tempo tetap membayar kupon penuh, dan nilai tercatatnya kembali ke nilai nominal saat jatuh tempo. Rugi komprehensif lain akan berbalik dengan sendirinya bila imbal hasil turun.

Tekanan marjin berasal dari siklus sebelumnya. Penjelasan BCA membalik urutan sebab yang biasa dipakai: yang menekan imbal hasil aset pada 2026 adalah pemangkasan suku bunga 2025, sehingga kenaikan 2026 bekerja sebagai penopang, dengan jeda.

Modal asing tidak meninggalkan aset Indonesia secara menyeluruh. Kepemilikan asing di SBN naik Rp11,28 triliun sepanjang tahun berjalan menjadi Rp891,21 triliun, sementara di pasar saham keluar Rp71,99 triliun. Dana berpindah antarinstrumen, dan instrumen yang menyerapnya adalah yang imbal hasilnya naik langsung mengikuti suku bunga acuan.

Valuasi sudah menyerap sebagian besar risiko yang diketahui. Pada sekitar 10 kali laba proyeksi, atau dua standar deviasi di bawah rerata lima tahun, tingkat pesimisme yang tercermin di harga sudah tinggi menurut ukuran historisnya sendiri.

Titik Uji Berikutnya

Satu temuan yang saya pegang: sepanjang 2026 kelipatan IHSG menyusut sepenuhnya dari sisi harga sementara penyebutnya naik, sehingga yang menentukan arah berikutnya adalah garis laba mana yang sedang dibaca.

Beberapa angka yang belum terbit akan menguji bacaan itu secara langsung.

Laporan semester I 2026 BBRI. Belum terbit sampai pertengahan Agustus. Angka pencadangan, marjin bunga bersih, dan rasio kredit berisikonya akan melengkapi peta empat bank menjadi lima. Bila biaya kreditnya melanjutkan penurunan dari 3,3 persen di kuartal I, pos penutup selisihnya masuk ke kelompok yang sama dengan BMRI dan BBTN.

Laporan kuartal III 2026 perbankan, rilis Oktober 2026. Menguji panduan Bank Mandiri bahwa tekanan marjin berhenti pada kuartal III, dan klaim BCA bahwa imbal hasil aset sudah melewati titik terendahnya pada kuartal II. Marjin bunga bersih BNI yang kini 3,55 persen adalah pembanding paling sensitif di kelompok itu.

Imbal hasil SBN 10 tahun. Kini 7,151 persen. Bertahan di bawah 7,2 persen sepanjang kuartal III akan membalik arah pos penghasilan komprehensif lain dan menyempitkan jarak 57,44 poin persentase di BNI. Bergerak kembali ke atas 7,28 persen akan melebarkannya.

Prapenjualan properti kuartal III. SMRA di 49 persen dan CTRA di 49 sampai 52 persen target setahun pada semester I. Capaian di bawah 75 persen pada akhir kuartal III akan menunjukkan bahwa insentif PMK 90/2025 tidak cukup menahan pelemahan permintaan, terlepas dari arah laba tercatat.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia berikutnya. BI Rate kini 5,75 persen. Arah berikutnya menentukan apakah rantai dari suku bunga acuan ke ekuitas bank berjalan maju atau berbalik.


Sumber Data

Regulasi dan dokumen resmi

  • PMK 90/2025 — besaran, batas harga, periode, dan syarat kode identitas rumah untuk PPN Ditanggung Pemerintah properti sampai 31 Desember 2026.
  • PMK 13/2025 dan PMK 60/2025 — periode dan besaran fasilitas PPN properti sepanjang 2025, dasar pernyataan bahwa skema kembali ke 100 persen.
  • Perpres 40/2018 dan PMK 81/2024 — dasar hukum Coretax DJP dan penggunaan Nomor Induk Kependudukan sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak.

Data institusional

  • Bursa Efek Indonesia, IDX Daily Statistics 11 dan 14 Agustus 2026 — penutupan indeks, kinerja tahun berjalan, dan kapitalisasi pasar.
  • Bank Indonesia — BI Rate dan besaran kenaikannya, imbal hasil SBN 10 tahun 31 Desember 2025, posisi kepemilikan asing di SBN.
  • Otoritas Jasa Keuangan, Siaran Pers Rapat Dewan Komisioner Maret 2026 — Indonesia Composite Bond Index, pergerakan imbal hasil SBN, dan arus investor nonresiden.
  • Kementerian Keuangan dan Kementerian Perindustrian — konfirmasi perpanjangan dan cakupan insentif properti.

Riset industri dan sekuritas

  • CGS International Sekuritas — pertumbuhan laba inti kuartal I dan kuartal II 2026, proporsi emiten yang meleset dari ekspektasi, komposisi sektoral, dan pembacaan atas marketing sales CTRA.
  • Indo Premier Sekuritas, riset 10 Agustus 2026 — laba agregat sektor properti, capaian konsensus, dan angka BSDE, PWON, SMRA.
  • Mirae Asset Sekuritas dan Ciptadana Sekuritas — revisi target indeks 2026 dan posisi kelipatan terhadap rerata lima tahun.
  • DBS — proyeksi pertumbuhan laba emiten 2026.
  • Phintraco Sekuritas — pembacaan alternatif atas penurunan marketing sales CTRA.

Laporan emiten

  • Laporan keuangan interim Bank Mandiri per 30 Juni 2026 — lima garis laba, pos penghasilan komprehensif lain, pencadangan, dana murah, dan efek dekonsolidasi Bank Syariah Indonesia.
  • Laporan keuangan interim BNI per 30 Juni 2026 — laba bersih, total laba komprehensif, rugi komprehensif lain setelah pajak, pencadangan, marjin bunga bersih, dan rasio kredit berisiko.
  • Laporan keuangan interim BCA per 30 Juni 2026 — laba bersih, pendapatan bunga bersih, pendapatan nonbunga, dana murah, dan penyaluran kredit.
  • Laporan keuangan BBTN semester I 2026 — laba bersih, beban provisi, dan pendapatan bunga bersih.
  • Laporan kuartal I 2026 BBRI — laba bersih, pendapatan bunga bersih, marjin bunga bersih, dan biaya kredit.
  • Laporan dan paparan SMRA, CTRA, BSDE, PWON, INDF, INCO, CUAN, INDY semester I 2026.

Catatan atas perhitungan sendiri
Angka berikut adalah hasil perhitungan saya dari data di atas, bukan angka yang dipublikasikan: rekonstruksi titik awal indeks 2026 di 8.646,5 poin; laba agregat tersirat Rp861,4 triliun dan nilai buku agregat Rp6.580,1 triliun; imbal hasil ekuitas tersirat 13,09 persen; seluruh baris tabel dekomposisi kelipatan dan pengali dasar 0,64 poin persentase; rasio transmisi 1,23 kali; selisih 57,44 poin persentase pada BNI; selisih pertumbuhan pada tabel empat bank; jarak 51 poin persentase pada SMRA; dan besaran pemangkasan target 35,24 persen serta 13,17 persen.

Catatan atas selisih sumber
Pertumbuhan laba bersih BNI dilaporkan 6,56 persen, sementara perhitungan langsung dari Rp10,09 triliun ke Rp10,76 triliun menghasilkan 6,64 persen; selisih 0,08 poin persentase berasal dari pembulatan nilai rupiah. Angka yang dipakai di sepanjang tulisan ini adalah angka yang dilaporkan. Hal yang sama berlaku pada pendapatan bunga bersih BNI, yang muncul sebagai 13,95 persen dan 14,19 persen di publikasi berbeda untuk periode yang sama.

Konten edukasi, bukan rekomendasi investasi. Seluruh data per 14 Agustus 2026.