RDPU dan SBN dalam Portofolio: Bobot yang Mengikuti dari Toleransi Drawdown dan Horizon
Sepanjang 2026 berjalan, lapisan defensif portofolio investor Indonesia diuji oleh dua guncangan sekaligus. Indeks Harga Saham Gabungan turun 19,55% sampai 30 April sebelum memulih; pada periode yang sama reksa dana saham turun 8,30% dan reksa dana campuran 3,77%. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik 122 basis poin, yang menurunkan harga seri berkupon tetap sekitar 8,64%.
Dua instrumen yang biasa mengisi lapisan defensif — reksa dana pasar uang (RDPU) dan SBN — merespons kedua guncangan itu secara berbeda. Nilai aktiva bersih RDPU tidak mengalami penurunan; dana kelolaannya justru naik 5,41% sampai April. Harga SBN berkupon tetap turun mengikuti kenaikan imbal hasil.
Perbedaan itu dapat diukur, dan dari ukurannya bobot portofolio dapat diturunkan. Tiga lapisan menentukannya: drawdown terukur tiap instrumen, horizon dana yang ditempatkan, dan imbal hasil yang menyertai tiap bobot.
Apa yang Diisi RDPU
RDPU menempatkan dana pada instrumen bertenor di bawah satu tahun: deposito berjangka, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Surat Perbendaharaan Negara, dan obligasi yang sisa jatuh temponya di bawah satu tahun. Seluruh isinya bertenor pendek, dan dari situlah durasi yang mendekati nol berasal.
Komposisinya bergeser tajam sejak Bank Indonesia menerbitkan SRBI pada 15 September 2023, yang mengambil alih peran Sertifikat Bank Indonesia sebagai instrumen operasi moneter utama. Ukuran pergeseran itu terbaca pada satu angka: dana yang terhimpun pada SRBI naik dari Rp71,5 triliun pada akhir September 2023 menjadi Rp979,9 triliun per 29 Mei 2026 — tumbuh 13,7 kali dalam kurang dari tiga tahun.
Pada lelang 3 Juli 2026, SRBI tenor 12 bulan menghasilkan imbal hasil rata-rata tertimbang 7,67%, atau 1,92 poin persentase di atas BI-Rate, karena instrumen ini juga berfungsi menarik likuiditas dari sistem perbankan.
Dua batasan melekat pada pembacaan angka itu. Pertama, 7,67% adalah imbal hasil instrumen dasar pada satu lelang, bukan imbal hasil yang diterima pemegang unit; hasil yang diterima adalah angka tersebut dikurangi biaya pengelolaan dan disesuaikan dengan bauran tiap produk, yang mencampur SRBI dengan deposito dan surat utang pendek pada proporsi berbeda-beda. Kedua, RDPU berada di luar skema penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) karena bukan simpanan bank; pencairannya maksimal T+1 tanpa penalti.
Apa Itu SBN Ritel
SBN adalah surat utang yang diterbitkan pemerintah untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pembayaran pokok dan kupon dijamin negara melalui undang-undang Surat Utang Negara dan Surat Berharga Syariah Negara. Bagi investor individu, aksesnya melalui empat jenis seri ritel yang dipesan daring lewat mitra distribusi resmi:
| Jenis | Bentuk kupon | Pasar sekunder | Tenor umum |
|---|---|---|---|
| Obligasi Negara Ritel (ORI) | Tetap sampai jatuh tempo | Dapat diperdagangkan setelah masa minimum kepemilikan | 3–6 tahun |
| Sukuk Ritel (SR) | Tetap, berbasis akad ijarah | Dapat diperdagangkan setelah masa minimum kepemilikan | 3–6 tahun |
| Savings Bond Ritel (SBR) | Mengambang dengan batas minimum | Tidak diperdagangkan; tersedia pencairan awal | 2–4 tahun |
| Sukuk Tabungan (ST) | Mengambang dengan batas minimum | Tidak diperdagangkan; tersedia pencairan awal | 2–4 tahun |
Kupon dibayarkan bulanan pada keempat jenis. Pemesanan dimulai dari Rp1 juta dan dibatasi Rp5 miliar per individu per seri. Kalender 2026 memuat delapan seri: ORI029, SR024, ST016, ORI030, SR025, SWR007, SBR015, dan ST017.
Seri yang sedang berjalan memberi ukuran konkret. ORI030 ditawarkan 6 hingga 30 Juli 2026 dengan dua pilihan: ORI030T3 bertenor tiga tahun jatuh tempo 15 Juli 2029 berkupon 6,90%, dan ORI030T6 bertenor enam tahun jatuh tempo 15 Juli 2032 berkupon 7,00%, dengan target indikatif Rp20 triliun. Keduanya baru dapat diperdagangkan mulai 16 September 2026, setelah satu kali pembayaran kupon. Pada seri sebelumnya, ST016 terserap Rp22,617 triliun oleh 81.667 investor selama masa penawaran 8 Mei hingga 3 Juni 2026.
Pembagian tradable dan non-tradable itulah yang menentukan tempat tiap seri pada aritmetika berikutnya. ORI dan SR memiliki harga pasar yang dapat naik dan turun; SBR dan ST tidak.
Lapisan Pertama: Drawdown Terukur
Drawdown diukur sebagai penurunan harga pada guncangan yang benar-benar terjadi tahun ini, yaitu kenaikan imbal hasil 122 basis poin. Besarannya ditentukan durasi, yang dihitung dari kupon dan tenor masing-masing:
| Instrumen | Durasi modifikasi | Drawdown pada guncangan 122 bp |
|---|---|---|
| RDPU (tenor di bawah 1 tahun) | Mendekati nol | 0,00% |
| Savings Bond Ritel (SBR) dan Sukuk Tabungan (ST) | Tidak berlaku | 0,00% |
| ORI030T3 (3 tahun) | 2,70 | −3,24% |
| ORI030T6 (6 tahun) | 4,89 | −5,76% |
| SBN 10 tahun pasar sekunder | 7,18 | −8,64% |
RDPU tidak mengalami penurunan harga karena seluruh isinya bertenor di bawah satu tahun, sehingga durasinya mendekati nol. SBR dan ST tidak mengalaminya karena berkupon mengambang dengan batas minimum dan tidak diperdagangkan di pasar sekunder — keduanya tidak memiliki harga pasar yang dapat turun.
Jarak antara ORI enam tahun dan SBN sepuluh tahun adalah 1,50 kali. Jarak antara keduanya dan RDPU tidak dapat dinyatakan sebagai rasio, karena penyebutnya nol.
Lapisan Kedua: Gerbang Horizon
Kerugian harga pada seri berkupon tetap bersifat sementara selama kuponnya terus berjalan. Yang menentukan apakah kerugian itu terealisasi adalah kapan dananya dibutuhkan:
| Kenaikan imbal hasil | ORI030T3 | ORI030T6 | SBN 10 tahun |
|---|---|---|---|
| +50 bp | 2,3 bulan | 4,1 bulan | 6,0 bulan |
| +100 bp | 4,6 bulan | 8,1 bulan | 11,8 bulan |
| +122 bp (realisasi 2026) | 5,6 bulan | 9,9 bulan | 14,2 bulan |
| +200 bp | 9,1 bulan | 15,9 bulan | 22,6 bulan |
Angka pada tabel adalah jumlah bulan kupon yang diperlukan untuk menutup penurunan harga. Dana yang dibutuhkan lebih cepat daripada angka itu berhadapan dengan harga pasar; dana yang ditempatkan lebih lama berhadapan dengan kupon.
Satu batasan tambahan berlaku pada seri baru. ORI030 baru dapat diperdagangkan di pasar sekunder setelah masa minimum kepemilikan terlampaui, yaitu mulai 16 September 2026. Sebelum tanggal itu, penjualan bukan pilihan yang tersedia pada harga berapa pun.
Lapisan Ketiga: Bobot yang Mengikuti
Dari drawdown terukur, bobot dapat diturunkan langsung dari satu angka yang ditetapkan investor sendiri — penurunan nilai terdalam yang bersedia ditanggung pada lapisan defensif portofolionya:
w SBN = toleransi drawdown ÷ 5,76%
| Toleransi drawdown | Bobot SBN | Bobot RDPU | Drawdown tersirat | Horizon minimum |
|---|---|---|---|---|
| 0,5% | 8,7% | 91,3% | 0,50% | 0,9 bulan |
| 1,0% | 17,4% | 82,6% | 1,00% | 1,7 bulan |
| 2,0% | 34,7% | 65,3% | 2,00% | 3,4 bulan |
| 3,0% | 52,1% | 47,9% | 3,00% | 5,1 bulan |
| 5,8% | 99,9% | 0,1% | 5,76% | 9,9 bulan |
Kriteria barisnya dinyatakan pada kolom pertama: penurunan nilai terdalam yang ditoleransi, diukur terhadap guncangan yang sudah terjadi pada 2026. Kolom terakhir menunjukkan berapa lama dana perlu ditempatkan agar kupon menutup drawdown pada bobot tersebut.
Penyebut 5,76% memakai ORI030T6 sebagai acuan. Investor yang menempatkan dana pada ORI030T3 menghadapi penyebut 3,24%, dan yang menempatkan pada seri benchmark sepuluh tahun menghadapi 8,64%.
Imbal Hasil yang Menyertai Tiap Bobot
Bagian ini menentukan apakah tambahan drawdown itu dibayar. Kupon ORI030T6 setelah PPh final 10% adalah 6,30%. Imbal hasil RDPU adalah instrumen dasarnya dikurangi biaya pengelolaan; pada asumsi biaya 0,50%–1,00% per tahun terhadap imbal hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) 12 bulan sebesar 7,67%, rentangnya menjadi 6,67%–7,17%.
| Bobot SBN | Imbal hasil gabungan | Riil atas IHK 2,88% |
|---|---|---|
| 8,7% | 6,64%–7,09% | 3,76–4,21 pp |
| 17,4% | 6,61%–7,02% | 3,73–4,14 pp |
| 34,7% | 6,54%–6,87% | 3,66–3,99 pp |
| 52,1% | 6,48%–6,72% | 3,60–3,84 pp |
| 99,9% | 6,30% | 3,42 pp |
Kolom tengah bergerak turun seiring naiknya bobot SBN. Selisih antara bobot nol dan bobot penuh adalah 0,37 hingga 0,87 poin persentase, dan tandanya negatif.
Inilah temuan yang menentukan seluruh susunan: pada struktur imbal hasil hari ini, menaikkan bobot SBN menambah drawdown tanpa menambah imbal hasil. Tambahan drawdown hingga 5,76 poin persentase dibayar dengan imbal hasil yang lebih rendah, bukan lebih tinggi.
Mengapa Strukturnya Demikian
Urutan imbal hasil yang dihadapi investor ritel pada Juli–Agustus 2026 berjalan terbalik terhadap tenornya:
| Instrumen | Tenor | Imbal hasil bruto |
|---|---|---|
| Lelang SRBI, 3 Juli | 12 bulan | 7,67% |
| SBN pasar sekunder, 30 Juli | 10 tahun | 7,29% |
| ORI030T6 | 6 tahun | 7,00% |
| ORI030T3 | 3 tahun | 6,90% |
| Plafon penjaminan LPS | — | 3,75% |
Instrumen bertenor 12 bulan berada 0,38 poin persentase di atas SBN sepuluh tahun dan 0,67 poin persentase di atas kupon ritel enam tahun.
Penyebabnya adalah urutan repricing. Bank Indonesia menaikkan BI-Rate 100 basis poin secara kumulatif dalam dua bulan — 50 basis poin pada Mei 2026 dari 4,75%, lalu dua kenaikan 25 basis poin sepanjang Juni menjadi 5,75%, dipertahankan pada Rapat Dewan Gubernur 21–22 Juli. Instrumen bertenor di bawah satu tahun mengikuti tingkat baru dalam hitungan bulan, sementara kupon tetap yang sudah terbit tidak berubah sama sekali.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaikkan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum 25 basis poin menjadi 3,75%, berlaku 1 Juli hingga 30 September 2026.
Lapisan Pajak
Perlakuan pajak menambah selisih yang tidak terlihat pada imbal hasil bruto:
| Instrumen | Bruto | Pajak | Neto |
|---|---|---|---|
| RDPU (instrumen dasar SRBI) | 7,67% | Bukan objek pajak di tingkat investor | 7,67% |
| ORI030T6 | 7,00% | PPh final 10% (PP 91/2021) | 6,30% |
| Deposito pada plafon penjaminan | 3,75% | PPh final 20% | 3,00% |
Keuntungan reksa dana bukan objek pajak di tingkat investor karena pajak telah dikenakan pada tingkat portofolio, dan tetap dilaporkan sebagai harta serta penghasilan bukan objek pajak dalam Surat Pemberitahuan Tahunan. Pelaporan berjalan melalui Sistem Administrasi Perpajakan Coretax, dengan Nomor Induk Kependudukan berfungsi sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak bagi orang pribadi.
Terhadap Indeks Harga Konsumen Juli 2026 sebesar 2,88%, deposito pada plafon penjaminan menyisakan 0,12 poin persentase riil.
Cabang Ketiga: Imbal Hasil SBN tanpa Durasi
SBR dan ST menempati posisi yang tidak terwakili pada tabel bobot di atas. Keduanya berkupon mengambang dengan batas minimum, dijamin undang-undang SUN dan SBSN, dikenai PPh final 10% yang sama, dan tidak diperdagangkan — sehingga drawdown harganya nol pada guncangan berapa pun.
Yang ditukar adalah likuiditas. Pencairan awal terbatas pada maksimal 50% kepemilikan, dan sisanya terkunci sampai jatuh tempo. Pada kalender 2026, SBR015 ditawarkan 28 September hingga 22 Oktober dan ST017 mulai 6 November.
Bagi porsi portofolio yang toleransi drawdown-nya mendekati nol tetapi horizonnya panjang, lapis ini memberi perlakuan pajak dan jaminan SBN tanpa menanggung durasi — dengan konsekuensi likuiditas yang dinyatakan di muka.
Transmisi Jangka Pendek: Hitungan Bulan
Kupon seri ritel baru menyesuaikan pada penerbitan berikutnya. ORI029 ditawarkan 26 Januari dengan kupon 5,45% dan 5,80%; ORI030 ditawarkan 6 Juli dengan 6,90% dan 7,00%. Selisihnya 1,45 dan 1,20 poin persentase dalam rentang lima bulan. Pada modal Rp100 juta di seri enam tahun, selisih itu bernilai Rp1.080.000 per tahun setelah pajak.
Imbal hasil pasar uang naik lebih dulu. SRBI 12 bulan pada 7,67% berada 1,92 poin persentase di atas BI-Rate, karena instrumen ini juga berfungsi menarik likuiditas. Dana yang terhimpun padanya naik dari Rp71,5 triliun pada akhir September 2023 menjadi Rp979,9 triliun per 29 Mei 2026.
Harga seri yang beredar menyesuaikan seketika. Kenaikan 122 basis poin menurunkan harga seri sepuluh tahun berkupon 6,07% sekitar 8,64% — angka yang hanya terealisasi bagi yang menjual.
Transmisi Jangka Panjang: Hitungan Tahun
Kupon tetap mengunci tingkat saat pembelian. Pemegang ORI030T6 menerima 7,00% sampai 15 Juli 2032. Pada IHK berjalan, kupon neto 6,30% menyisakan 3,42 poin persentase riil pada tingkat itu, terkunci sepanjang tenornya.
Imbal hasil RDPU mengikuti ke bawah ketika siklus berbalik. Instrumen bertenor pendek diperbarui terus-menerus, sehingga keunggulan 0,38 poin persentase hari ini hilang pada siklus pelonggaran berikutnya — tepat ketika kupon tetap yang sudah terkunci mempertahankan tingkatnya. Pada titik itu, tanda pada kolom "imbal hasil gabungan" berbalik positif.
Struktur biaya melekat sepanjang kepemilikan. Biaya pengelolaan RDPU dipungut setiap tahun dari nilai aktiva bersih; SBN ritel tidak memungut biaya tahunan setelah pembelian. Kalender 2026 memuat delapan seri ritel, sehingga tingkat kupon baru ditetapkan berkala sepanjang tahun.
Peta Perbandingan
Perbandingan berikut disusun menurut kriteria yang seluruhnya diumumkan atau dihitung dari data yang diumumkan: drawdown pada guncangan 122 basis poin, pajak yang berlaku, dan syarat pencairan.
| Kriteria | RDPU | ORI dan SR | SBR dan ST |
|---|---|---|---|
| Drawdown pada +122 bp | 0,00% | −3,24% s.d. −5,76% | 0,00% |
| Pajak | Bukan objek pajak investor | PPh final 10% | PPh final 10% |
| Pencairan | Maksimal T+1, tanpa penalti | Pasar sekunder setelah masa minimum kepemilikan | Pencairan awal maksimal 50% |
| Penjaminan | Di luar skema LPS, bukan simpanan bank | Dijamin undang-undang SUN/SBSN | Dijamin undang-undang SUN/SBSN |
| Penempatan minimum | Bervariasi per produk | Rp1 juta, maksimum Rp5 miliar per seri | Rp1 juta, maksimum Rp5 miliar per seri |
| Peran pada tabel bobot | Penyebut nol | Pembilang drawdown | Di luar sumbu, drawdown nol |
Sensitivitas
Bobot pada tabel bergeser bersama asumsinya. Menggerakkan drawdown acuan antara 3,24% (ORI030T3) dan 8,64% (SBN sepuluh tahun), serta toleransi antara 1,5% dan 3,0%:
| Bobot SBN pada toleransi 2% | |
|---|---|
| Acuan SBN 10 tahun | 23,1% |
| Acuan ORI030T6 | 34,7% |
| Acuan ORI030T3 | 61,7% |
Rentangnya 2,67 kali. Memilih seri tiga tahun sebagai acuan menaikkan bobot dari 34,7% ke 61,7% tanpa satu pun perubahan pada toleransi investor — pemilihan seri menggerakkan hasil sebesar pemilihan toleransi.
Sisi Lain
Empat keberatan berdiri terhadap susunan di atas.
Drawdown RDPU nol adalah pembulatan, bukan identitas. Nilai aktiva bersihnya stabil karena durasi mendekati nol, bukan karena tidak ada risiko. Instrumen di dalamnya tetap membawa risiko gagal bayar penerbit, dan RDPU berada di luar skema penjaminan LPS.
Biaya pengelolaan adalah asumsi, bukan angka terverifikasi. Rentang 0,50%–1,00% dinyatakan sebagai asumsi. Produk dengan biaya di luar rentang itu menggeser seluruh kolom imbal hasil gabungan, dan pada biaya di atas 1,37% tanda selisihnya berbalik.
Guncangan 122 basis poin adalah satu episode. Bobot yang diturunkan dari satu tahun kalender akan berbeda bila dihitung dari rentang sejarah yang lebih panjang, dan episode 2026 memuat faktor geopolitik yang tidak berulang secara teratur.
Kerugian harga hanya terealisasi bila dijual. Pemegang ORI029T6 yang menahan sampai 2032 menerima kupon 5,80% dan pokok penuh, tanpa terpengaruh imbal hasil pasar. Tabel bobot mengukur ayunan nilai di tengah jalan, bukan hasil akhir bagi yang menahan.
Angka yang Akan Menguji Susunan Ini
Satu temuan yang saya pegang dari data di atas: pada struktur imbal hasil hari ini, menaikkan bobot SBN dari nol ke penuh menambah drawdown hingga 5,76 poin persentase sambil menurunkan imbal hasil 0,37 sampai 0,87 poin persentase — sehingga bobot SBN saat ini dibayar oleh horizon, bukan oleh imbal hasil.
Empat rilis berikut akan menunjukkan apakah susunan itu bertahan.
Masa penawaran SR025, 21 Agustus hingga 11 September 2026. Tingkat imbal hasilnya terhadap 7,00% milik ORI030T6 menunjukkan apakah ujung ritel sudah menyusul pasar sekunder.
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Agustus dan September 2026. Kenaikan lanjutan dari 5,75% mengangkat ujung pendek lebih jauh dan memperbesar tanda negatif pada kolom imbal hasil gabungan. Penahanan dengan nada lebih longgar mengecilkannya.
Penawaran SBR015, 28 September hingga 22 Oktober 2026. Tingkat kupon dan batas minimumnya menunjukkan berapa besar imbal hasil yang tersedia pada cabang tanpa durasi.
Selisih lelang SRBI terhadap yield SBN 10 tahun. Kini 0,38 poin persentase, dapat diperiksa setiap pekan. Kembalinya selisih itu ke wilayah negatif membalik tanda pada kolom imbal hasil gabungan, dan bersama itu membalik arah seluruh tabel bobot.
Referensi
- Bank Indonesia — lelang dan data Sekuritas Rupiah Bank Indonesia: https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/default.aspx
- Bank Indonesia — hasil Rapat Dewan Gubernur Mei, Juni, dan Juli 2026 serta BI-Rate: https://www.bi.go.id/id/statistik/indikator/bi-rate.aspx
- Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko — memo informasi dan kalender SBN ritel 2026: https://www.djppr.kemenkeu.go.id/sbnritel
- Badan Pusat Statistik — Berita Resmi Statistik Inflasi Juli 2026: https://www.bps.go.id
- Lembaga Penjamin Simpanan — Tingkat Bunga Penjaminan periode 1 Juli–30 September 2026: https://lps.go.id
- Otoritas Jasa Keuangan — statistik dan ketentuan reksa dana: https://ojk.go.id
- Infovesta — indeks kinerja reksa dana dan data dana kelolaan: https://www.infovesta.com
- Peraturan Pemerintah No. 91 Tahun 2021 tentang PPh atas Penghasilan Bunga Obligasi: https://jdih.kemenkeu.go.id
