Aritmetika Utilisasi: Mengapa Tambahan Volume Tidak Otomatis Menurunkan Biaya per Ton
Kapasitas terpasang industri semen nasional berada di sekitar 120 juta ton per tahun. Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia memperkirakan utilisasi industri pada 2025 sekitar 54%, dan memproyeksikan angka itu naik ke sekitar 56% pada 2026. Rentang yang disebut asosiasi sebagai tingkat ideal adalah 80%–85%.
Pada utilisasi 54%, industri memakai 64,8 juta ton kapasitasnya dan membiarkan 55,2 juta ton menganggur.
Artikel ini menelusuri apa yang dilakukan angka itu terhadap biaya per ton, dan mengapa pertumbuhan penjualan dua digit pada semester I 2026 belum mengubahnya.
Jurang itu diukur dalam tonase, bukan poin persentase
Selisih antara 54% dan 80% terlihat seperti 26 poin persentase. Diterjemahkan ke tonase, ukurannya berbeda.
| Utilisasi | Kapasitas terpakai | Kapasitas menganggur |
|---|---|---|
| 54% (perkiraan 2025) | 64,8 juta ton | 55,2 juta ton |
| 56% (proyeksi 2026) | 67,2 juta ton | 52,8 juta ton |
| 80% (batas bawah ideal) | 96,0 juta ton | 24,0 juta ton |
| 85% (batas atas ideal) | 102,0 juta ton | 18,0 juta ton |
Untuk bergerak dari 54% ke 80%, industri memerlukan tambahan 31,2 juta ton permintaan. Terhadap volume saat ini sebesar 64,8 juta ton, itu berarti permintaan harus tumbuh 48,1%.
Pada laju pertumbuhan yang biasa disebut pelaku industri, waktunya bisa dihitung:
| Pertumbuhan permintaan per tahun | Waktu mencapai utilisasi 80% |
|---|---|
| 2% | 19,8 tahun |
| 3% | 13,3 tahun |
| 4% | 10,0 tahun |
Angka-angka itu mengasumsikan kapasitas terpasang tidak bertambah sama sekali sepanjang periode tersebut.
Biaya tetap per ton bergerak berlawanan dengan utilisasi
Semen adalah industri proses dengan porsi biaya tetap yang besar. Kiln, fasilitas penggilingan, terminal, dan jaringan distribusi menanggung biaya yang tidak berubah proporsional terhadap tonase yang keluar dari pabrik.
Konsekuensi aritmetiknya sederhana: biaya tetap per ton berbanding terbalik dengan utilisasi. Bila biaya tetap adalah F dan volume adalah V, biaya tetap per ton adalah F dibagi V.
Terapkan pada angka industri:
| Utilisasi | Volume | Biaya tetap per ton relatif |
|---|---|---|
| 80% | 96,0 juta ton | 1,00 (acuan) |
| 56% | 67,2 juta ton | 1,43 |
| 54% | 64,8 juta ton | 1,48 |
Pada utilisasi 54%, setiap ton semen menanggung biaya tetap 48,1% lebih tinggi daripada pada utilisasi 80%.
Angka 48,1% itu sama persis dengan pertumbuhan permintaan yang dibutuhkan untuk mencapai 80%. Keduanya adalah rasio yang sama dibaca dari dua arah: seberapa jauh volume harus naik, dan seberapa besar denda biaya yang ditanggung selama volume belum naik.
Inilah alasan struktural mengapa operator memiliki insentif kuat untuk terus berproduksi meski harga realisasi memburuk. Menghentikan produksi tidak menghilangkan biaya tetapnya; ia hanya memindahkan seluruh biaya itu ke tonase yang lebih kecil.
Yang terjadi pada 2026 sejauh ini
Asosiasi menyampaikan bahwa penjualan semen tumbuh dua digit pada semester I 2026. Pada saat yang sama, asosiasi memproyeksikan utilisasi setahun hanya bergerak dari sekitar 54% ke sekitar 56%.
Kedua pernyataan itu konsisten, dan aritmetikanya menjelaskan mengapa.
Produksi 2025 tercatat 64,7 juta ton, turun 4,5% secara tahunan. Utilisasi 56% atas kapasitas 120 juta ton setara 67,2 juta ton. Perjalanan dari 64,7 ke 67,2 juta ton adalah pertumbuhan 3,9% untuk setahun penuh.
Pertumbuhan dua digit pada satu semester, dihitung terhadap basis yang berkontraksi 4,5% tahun sebelumnya, menjadi angka satu digit ketika direntangkan ke setahun dan diukur terhadap kapasitas.
Dan perbaikan utilisasi dari 54% ke 56% menurunkan biaya tetap per ton sebesar 3,57%. Asosiasi pada waktu yang sama menyebutkan kenaikan biaya energi, listrik, bahan baku, distribusi, dan logistik sebagai tekanan yang sedang berjalan. Penurunan 3,57% pada satu komponen biaya dapat diserap oleh kenaikan pada komponen lain.
Lintasan tujuh tahun
Utilisasi industri semen nasional tidak kembali ke level sebelum pandemi.
| Tahun | Utilisasi | Produksi |
|---|---|---|
| 2019 | sekitar 65% | — |
| 2020 | 55% | — |
| 2021 | 59,6% | 69,1 juta ton |
| 2023 | 54,2% | — |
| 2024 | 56,5% | 67,8 juta ton |
| 2025 | sekitar 54% | 64,7 juta ton |
| 2026 (proyeksi) | sekitar 56% | — |
Titik tertinggi pasca-pandemi terjadi pada 2021 di 59,6%, dan angka itu masih di bawah level 2019. Produksi 2025 sebesar 64,7 juta ton berada di bawah produksi 2021 sebesar 69,1 juta ton, empat tahun sesudahnya.
Kapasitas, pada periode yang sama, bergerak naik: 118,1 juta ton pada 2023 menjadi 119,9 juta ton pada 2024 dan sekitar 120 juta ton saat ini. Pemberitaan industri juga menyebut pembangunan pabrik baru yang berpotensi menambah sekitar 4 juta ton kapasitas.
Komposisi permintaan ikut bergeser
Volume total bukan satu-satunya yang bergerak. Bauran segmennya juga.
Data asosiasi untuk 2024 mencatat proporsi semen kantong terhadap semen curah pada 69 berbanding 31. Pada tahun itu, konsumsi semen kantong turun 3,1% sementara semen curah naik 4,4%. Semen kantong mencapai puncaknya pada 51,05 juta ton di 2019 dan menurun sesudahnya.
Ekspor bergerak berlawanan arah dengan pasar domestik: pada 2024, ekspor naik 10,4% menjadi 11,9 juta ton. Pada 2023, ekspor tercatat 1,4 juta ton semen ditambah 9,7 juta ton klinker.
Asosiasi menyampaikan bahwa pemulihan sektor properti dan semen kantong masih perlu dibaca hati-hati, karena pertumbuhan volume belum selalu mencerminkan penguatan daya beli secara menyeluruh.
Emiten semen di Bursa Efek Indonesia: di mana aritmetika itu muncul
Aritmetika utilisasi bukan konsep abstrak. Ia muncul pada laporan keuangan perusahaan yang tercatat di bursa, dan angkanya dipublikasikan setiap kuartal.
Empat produsen semen tercatat di Bursa Efek Indonesia: PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Semen Baturaja Tbk yang merupakan anak usaha Semen Indonesia, dan PT Cemindo Gemilang Tbk.
Volume semester I 2026. Konsumsi semen nasional tercatat 29,93 juta ton, tumbuh 10,2% secara tahunan. Terhadap angka itu:
| Perusahaan | Volume semester I 2026 | Pertumbuhan |
|---|---|---|
| Semen Indonesia (total, termasuk ekspor) | 18,27 juta ton | +5,6% |
| — di antaranya domestik | 14,2 juta ton | +9,7% |
| Indocement (total) | 8,40 juta ton | +4,9% |
| Konsumsi nasional | 29,93 juta ton | +10,2% |
Volume domestik Semen Indonesia setara 47,4% konsumsi nasional dan tumbuh 9,7% — 0,5 poin persentase di bawah laju pasar. Realisasi konsumsi semester I sebesar 29,93 juta ton setara sekitar 47% proyeksi setahun, sejalan dengan pola lima tahun terakhir pada kisaran 43%–47%.
Laporan keuangan kuartal I 2026. Di sinilah denda biaya tetap terlihat dalam rupiah.
| Perusahaan | Pendapatan | Laba bersih | Marjin laba bersih |
|---|---|---|---|
| Semen Indonesia | Rp8,29 triliun (+8,37%) | Rp80,34 miliar (+88,68%) | 0,97% |
| Indocement | Rp3,84 triliun (−3,52%) | tumbuh tipis | — |
| Semen Baturaja | Rp439,40 miliar (−16,75%) | Rp17,32 miliar (−64,62%) | 3,94% |
| Cemindo Gemilang | Rp2,08 triliun (+7,77%) | rugi Rp88,12 miliar | −4,24% |
Angka yang paling menjelaskan bukan pertumbuhan laba 88,68%, melainkan marjin laba bersih 0,97% yang menyertainya. Pada pendapatan Rp8,29 triliun, laba yang tersisa kurang dari satu persen. Satu emiten masih mencatat rugi meski pendapatannya tumbuh.
Inilah bentuk konkret dari denda 48,1%: pada utilisasi industri 54%, biaya tetap per ton yang tinggi menyisakan lapisan laba yang sangat tipis, bahkan bagi produsen dengan volume terbesar.
Harga naik, tetapi belum menutup biaya. Keterbukaan manajemen untuk paruh kedua 2026 memuat kedua angkanya:
| Komponen | Besaran per ton |
|---|---|
| Kenaikan harga semen curah | Rp40.000–50.000 |
| Kenaikan biaya produksi | Rp50.000–60.000 (setara 6%–7%) |
| Selisih pada titik tengah | Rp10.000 belum tertutup |
Harga semen kantong dinaikkan sekitar Rp1.500–2.000 per sak. Bila harga batu bara dan bahan bakar bertahan tinggi, manajemen menyebut potensi tambahan biaya Rp25.000–30.000 per ton, sehingga selisih yang belum tertutup dapat melebar sampai sekitar Rp37.500 per ton.
Angka ini bertemu dengan perhitungan sebelumnya: perbaikan utilisasi dari 54% ke 56% menurunkan biaya tetap per ton 3,57%, sementara biaya produksi naik 6%–7%. Perbaikan utilisasi diserap habis oleh kenaikan biaya, dan menyisakan selisih.
Apakah utilisasi semen menandakan pertumbuhan ekonomi?
Konsumsi semen sering dipakai sebagai penanda aktivitas pembangunan. Data 2025 dan 2026 memungkinkan pertanyaan itu diperiksa, dan jawabannya lebih spesifik daripada ya atau tidak.
Pada 2025, keduanya bergerak berlawanan arah. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% sepanjang 2025, lebih tinggi daripada 5,03% pada 2024, dengan PDB harga berlaku Rp23.821,1 triliun. Pada tahun yang sama, produksi semen nasional turun 4,5% menjadi 64,7 juta ton.
Satu tahun dengan pertumbuhan ekonomi tercepat sejak 2024 berjalan bersamaan dengan kontraksi produksi semen. Sebagai penanda pertumbuhan ekonomi secara umum, semen gagal pada tahun itu.
Yang diikuti semen adalah sektor konstruksi, bukan PDB. Pada triwulan I 2026, sektor konstruksi tumbuh 5,49%, naik tajam dari 2,18% pada triwulan I 2025. Pada periode yang berdekatan, konsumsi semen semester I 2026 tumbuh 10,2%. Kedua angka itu bergerak searah.
Tetapi konstruksi hanyalah sebagian kecil dari PDB. Kontribusi sektor konstruksi terhadap PDB Indonesia tercatat 9,83% pada 2025, urutan keempat di antara seluruh lapangan usaha.
Aritmetikanya:
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| Pertumbuhan sektor konstruksi, triwulan I 2026 | 5,49% |
| Porsi konstruksi terhadap PDB | 9,83% |
| Kontribusi ke pertumbuhan PDB | 0,54 poin persentase |
| Pertumbuhan PDB triwulan I 2026 | 5,61% |
| Porsi kontribusi itu | 9,6% dari angka utama |
Sektor konstruksi yang tumbuh 5,49% menyumbang sekitar 0,54 poin persentase dari pertumbuhan PDB 5,61% — kurang dari sepersepuluh angka utamanya.
Pendorong pertumbuhan pada periode itu berada di tempat lain. Dari sisi pengeluaran, triwulan I 2026 ditopang belanja pemerintah yang tumbuh 21,81%, konsumsi rumah tangga 5,52%, dan investasi 5,96%. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi tercatat pada akomodasi serta makan dan minum sebesar 13,14% — bukan konstruksi.
Analis pasar modal yang mengamati sektor ini menyebut pendorong konsumsi semen semester I 2026 adalah percepatan program pemerintah tertentu, termasuk pembangunan koperasi desa dan sekolah rakyat.
Kesimpulan pemeriksaan ini: konsumsi semen membaca belanja konstruksi, dan pada 2026 terutama belanja konstruksi yang dibiayai anggaran negara. Ia bukan penanda pertumbuhan ekonomi secara luas. Kenaikan utilisasi semen dapat terjadi tanpa percepatan ekonomi, dan percepatan ekonomi dapat terjadi tanpa kenaikan utilisasi semen — keduanya sudah terjadi dalam dua tahun terakhir.
Bagaimana utilisasi rendah berpindah menjadi tekanan margin
Menyebut utilisasi rendah bukan menjelaskan dampaknya. Mekanisme dasarnya begini: dalam industri berbiaya tetap tinggi, keputusan produksi setiap pelaku rasional secara sendiri-sendiri dan menghasilkan keluaran yang berbeda secara kolektif. Setiap pabrik yang menambah tonase menurunkan biaya tetap per tonnya sendiri, dan menambah pasokan ke pasar yang sudah kelebihan.
Perpindahannya berjalan melalui lima saluran.
Satu — biaya tetap per ton menghukum penahanan produksi. Denda 48,1% pada utilisasi 54% dibanding 80% berlaku bagi siapa pun yang memilih memproduksi lebih sedikit.
Dua — kapasitas menganggur tidak bisa dilepas dengan cepat. Kiln adalah aset termal berumur panjang; 55,2 juta ton kapasitas yang tidak terpakai tetap menanggung penyusutan dan pemeliharaan.
Tiga — jaringan distribusi menuntut kontinuitas. Terminal, armada, dan hubungan distributor memerlukan aliran barang yang berkelanjutan, sehingga penghentian pasokan memiliki biaya di luar pabrik.
Empat — pasar semen bersifat regional sebelum nasional. Radius distribusi ekonomis, akses pelabuhan, dan biaya angkut membuat kondisi persaingan berbeda antarwilayah, sehingga tekanan harga muncul lebih dulu secara lokal.
Lima — biaya input bergerak sendiri. Energi, listrik, bahan baku, dan logistik tidak mengikuti pergerakan harga jual, sehingga perbaikan tipis pada biaya tetap per ton dapat terhapus.
Ada satu angka yang terdengar menenangkan dan tidak menyelesaikan hal ini: penjualan tumbuh dua digit pada semester I 2026. Pertumbuhan itu nyata. Yang perlu dibaca bersamanya adalah bahwa ia dihitung dari basis 2025 yang berkontraksi 4,5%, dan bahwa proyeksi setahun menempatkan utilisasi pada 56% — masih 24 poin persentase di bawah batas bawah rentang yang disebut ideal.
Terakhir, ada satu keadaan yang mengunci. Solusi paling langsung terhadap utilisasi rendah adalah pengurangan kapasitas, dan kapasitas adalah aset yang sudah dibayar. Menutupnya berarti mengakui kerugian atas modal yang sudah tertanam, sementara mempertahankannya berarti menanggung denda biaya tetap setiap tahun. Kedua pilihan itu mahal, dan keduanya berada di tangan pemilik aset, bukan di tangan pasar.
Transmisi: hitungan bulan dan hitungan tahun
Dalam hitungan bulan, tiga hal sudah terbaca. Pertumbuhan penjualan satu semester tidak berpindah penuh menjadi utilisasi setahun: dua digit pada semester I 2026 menjadi proyeksi 3,9% setahun. Perbaikan utilisasi 2 poin persentase menurunkan biaya tetap per ton hanya 3,57%. Dan biaya energi serta logistik yang naik bekerja pada arah berlawanan.
Dalam hitungan tahun, kapasitas bergerak lebih lambat daripada permintaan tetapi hanya ke satu arah: dari 118,1 juta ton pada 2023 menjadi sekitar 120 juta ton, dengan tambahan sekitar 4 juta ton yang diberitakan sedang dibangun. Permintaan memerlukan 13,3 tahun pada laju 3% untuk mencapai utilisasi 80%, dan itu dengan asumsi kapasitas berhenti bertambah. Konsolidasi industri sudah berlangsung — sebuah emiten semen digabungkan ke emiten lain pada 2023 dan sebuah produsen menengah diakuisisi pada 2024 — tanpa mengubah total kapasitas nasional, karena penggabungan memindahkan kepemilikan aset dan bukan menutupnya.
Peta (Ilustratif): Variabel, Bukan Peringkat
Peta ini menyusun variabel yang menentukan ekonomi per ton dan menunjukkan arah kerjanya. Tidak ada urutan, tidak ada penilaian, dan tidak ada perusahaan yang dinilai.
| Variabel | Besaran terukur | Arah kerjanya |
|---|---|---|
| Utilisasi industri | 54% pada 2025, proyeksi 56% pada 2026 | Menentukan biaya tetap per ton secara berbanding terbalik |
| Kapasitas terpasang | Sekitar 120 juta ton, naik dari 118,1 juta ton pada 2023 | Penyebut yang bergerak satu arah |
| Kapasitas menganggur | 55,2 juta ton pada utilisasi 54% | Menanggung penyusutan tanpa menghasilkan tonase |
| Bauran segmen | Kantong 69 berbanding curah 31 pada 2024 | Menentukan realisasi harga rata-rata |
| Ekspor | 11,9 juta ton pada 2024, naik 10,4% | Menyerap sebagian surplus di luar pasar domestik |
| Biaya energi dan logistik | Kenaikan biaya produksi Rp50.000–60.000 per ton, setara 6%–7% | Bergerak berlawanan dengan perbaikan utilisasi |
| Marjin emiten tercatat | Marjin laba bersih 0,97% pada satu emiten terbesar, kuartal I 2026 | Tempat denda biaya tetap muncul dalam rupiah |
| Sektor konstruksi | Tumbuh 5,49% pada triwulan I 2026, porsi 9,83% terhadap PDB | Menyumbang 0,54 poin persentase pertumbuhan |
| Belanja pemerintah | Tumbuh 21,81% pada triwulan I 2026 | Pendorong permintaan semen proyek pada 2026 |
Sisi Lain
Pembacaan di atas punya beberapa titik lemah yang jujur diakui.
Penjualan sedang tumbuh dua digit. Semester I 2026 mencatat pertumbuhan yang jelas positif, dan arah permintaan membaik dibanding kontraksi 2025.
Utilisasi diproyeksikan naik, bukan turun. Dari sekitar 54% ke sekitar 56% pada 2026, dan asosiasi mengaitkannya dengan pemulihan permintaan.
Rentang ideal 80%–85% adalah acuan asosiasi. Ia bukan angka regulasi, dan tingkat utilisasi yang memadai dapat berbeda antar-pabrik menurut umur aset, bauran bahan bakar, dan lokasi.
Perhitungan biaya tetap per ton bersifat proporsional. Ia mengasumsikan biaya tetap konstan dan hanya volume yang berubah; dalam praktik, sebagian biaya bersifat semi-variabel.
Angka utilisasi berbeda antar-sumber dan antar-basis. Sebagian menghitung produksi terhadap kapasitas, sebagian menghitung penjualan domestik ditambah ekspor, sehingga angka untuk tahun yang sama dapat berbeda beberapa poin persentase.
Kapasitas menganggur bukan seluruhnya beban penuh. Sebagian pabrik dapat beroperasi dengan biaya perawatan minimal ketika tidak berproduksi, sehingga denda biaya tetap sesungguhnya lebih kecil daripada perhitungan proporsional murni.
Angka emiten adalah kuartal I, volume adalah semester I. Laporan keuangan dan angka volume yang dikutip berasal dari periode berbeda, sehingga keduanya menggambarkan arah dan bukan potret yang sama.
Marjin satu kuartal bukan marjin setahun. Industri semen memiliki pola musiman, dan pelaku menyebut triwulan III secara historis lebih kuat.
Korelasi semen dan konstruksi tidak berarti sebab-akibat. Keduanya bergerak searah pada 2026, dan keduanya dapat sama-sama digerakkan oleh belanja anggaran.
Ekspor dan klinker menyerap sebagian surplus. Angka 11,9 juta ton pada 2024 tidak kecil terhadap kapasitas menganggur, dan pertumbuhannya 10,4%.
Titik Data yang Akan Menguji Pembacaan Ini
Satu temuan yang saya pegang: pada utilisasi 54%, setiap ton menanggung biaya tetap 48,1% lebih tinggi daripada pada 80% — dan angka yang sama, 48,1%, adalah pertumbuhan permintaan yang dibutuhkan untuk menutup jarak itu.
Berikut angka yang akan menempatkan pembacaan itu pada posisi berbeda.
Realisasi utilisasi industri setahun penuh 2026, dari asosiasi. Angka di atas proyeksi 56% mempersempit jarak terhadap rentang ideal lebih cepat daripada perhitungan ini.
Volume produksi tahunan terhadap 64,7 juta ton pada 2025. Ia mengukur apakah pertumbuhan semester I bertahan sampai akhir tahun atau melandai.
Kapasitas terpasang nasional pada pembaruan data berikutnya. Kapasitas yang berhenti bertambah dari sekitar 120 juta ton mempercepat seluruh perhitungan waktu pada tabel di atas.
Bauran semen kantong terhadap semen curah. Pergeseran kembali ke arah kantong mengubah realisasi harga rata-rata pada volume yang sama.
Volume ekspor semen dan klinker. Pertumbuhan di atas 10,4% menyerap surplus tanpa memerlukan pemulihan permintaan domestik.
Laporan keuangan kuartal berikutnya dari emiten tercatat. Marjin laba bersih yang bergerak menjauh dari 0,97% menunjukkan apakah kenaikan harga menutup kenaikan biaya.
Realisasi kenaikan harga terhadap kenaikan biaya per ton. Selisih Rp10.000 pada titik tengah adalah ukuran langsung apakah kenaikan harga cukup.
Pertumbuhan sektor konstruksi pada rilis PDB triwulanan. Ia adalah variabel yang benar-benar diikuti konsumsi semen, dan porsinya terhadap PDB tetap sekitar 9,83%.
Arah biaya energi dan logistik. Penurunan pada komponen ini dapat memperbaiki ekonomi per ton meski utilisasi belum bergerak.
Pengumuman penambahan atau penutupan kapasitas. Tambahan sekitar 4 juta ton yang diberitakan sedang dibangun memperlebar penyebut; penutupan pabrik mempersempitnya.
Artikel ini adalah analisis data dan edukasi pasar, bukan rekomendasi investasi dan bukan penilaian atas perusahaan atau efek mana pun. Angka industri berasal dari publikasi asosiasi dan pemberitaan resmi. Lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi (DYOR).
Referensi data
- Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia — keterangan mengenai kapasitas nasional sekitar 120 juta ton, utilisasi 2025 sekitar 54%, proyeksi 2026 sekitar 56%, dan rentang ideal 80%–85%, sebagaimana dikutip Bisnis Indonesia, 22 Juli 2026
- Asosiasi Semen Indonesia — statistik penjualan dan utilisasi industri 2023 dan 2024 (kapasitas terpasang 119,9 juta ton; penjualan domestik 64,9 juta ton; utilisasi 56,5%; bauran kantong dan curah 69 berbanding 31; ekspor 11,9 juta ton, naik 10,4%)
- Kementerian Perindustrian dan Indonesia.go.id — kebutuhan semen nasional 2023 sebesar 66,8 juta ton; ekspor 1,4 juta ton semen dan 9,7 juta ton klinker; utilisasi sekitar 58%
- Data industri sebagaimana dihimpun pemberitaan ekonomi — produksi 2021 sebesar 69,1 juta ton dengan utilisasi 59,6%; produksi 2024 sebesar 67,8 juta ton; produksi 2025 sebesar 64,7 juta ton, turun 4,5%; kapasitas 2023 sebesar 118,1 juta ton
- Bursa Efek Indonesia — pengumuman penghapusan pencatatan saham sebuah emiten semen pada 2023, dan keterbukaan informasi akuisisi produsen semen menengah pada 2024
- Laporan keuangan kuartal I 2026 dan keterbukaan informasi volume semester I 2026 PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Semen Baturaja Tbk, dan PT Cemindo Gemilang Tbk, sebagaimana dihimpun pemberitaan pasar modal Mei dan Juli 2026
- Badan Pusat Statistik — pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,11% dengan PDB harga berlaku Rp23.821,1 triliun; pertumbuhan triwulan I 2026 sebesar 5,61% dengan sektor konstruksi 5,49%
- Badan Pusat Statistik — Indikator Konstruksi Triwulan I 2026 (kontribusi sektor konstruksi terhadap PDB sebesar 9,83% pada 2025)
