Dua Ukuran Likuiditas Bursa 2026: Aktivitas dan Kedalaman

Dua Ukuran Likuiditas Bursa 2026: Aktivitas dan Kedalaman

Pada 7 Agustus 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia menembus 30.274.265 single investor identification (SID). Sepanjang tahun berjalan basis itu bertambah 9.926.440 akun, tumbuh 48,78% dari 20,35 juta pada akhir 2025. Pada hari yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di 6.409,65, terkoreksi 25,87% sejak awal tahun, dan nilai aset yang tercatat di C-BEST Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) berada di Rp8.261 triliun, turun 22,23% dari Rp10.623 triliun pada akhir 2024.

Dua angka itu bergerak berlawanan arah dalam periode yang sama, dan saya memakai jarak di antara keduanya sebagai titik masuk. Jumlah akun mengukur berapa banyak pihak yang punya izin bertransaksi. Kedalaman pasar mengukur berapa besar order yang bisa diserap tanpa menggerakkan harga secara material. Keduanya naik dan turun karena sebab yang berbeda, dan sepanjang 2026 keduanya bergerak terpisah cukup jauh untuk bisa diukur.

Dua Ukuran Likuiditas

Saya membedakan dua hal yang sama-sama disebut likuiditas.

Likuiditas aktivitas adalah banyaknya transaksi yang terjadi: nilai harian, frekuensi, volume, jumlah akun yang bergerak. Ini yang tampil di layar perdagangan.

Likuiditas struktural adalah ketersediaan lawan transaksi yang konsisten pada ukuran besar: kapasitas menyerap order tanpa memindahkan harga, dan keberadaan pemegang berhorizon menengah-panjang yang bersedia berada di sisi berlawanan.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk Juli 2026 memisahkan keduanya dengan rapi. Dari sisi kepemilikan, investor ritel domestik memegang 18,4% nilai efek di BEI. Dari sisi transaksi, investor ritel menyumbang 51,1% nilai transaksi, dibanding institusi asing 35,8% dan institusi domestik 13,1%.

Perbandingan dua porsi itu menghasilkan satu angka ringkas: porsi transaksi ritel adalah 2,78 kali porsi kepemilikannya. Setiap rupiah yang dimiliki investor ritel berputar hampir tiga kali lebih sering daripada rata-rata rupiah di bursa. Modal yang sama menghasilkan aktivitas layar yang jauh lebih besar, tanpa menambah kapasitas serap dalam ukuran yang sebanding.

Porsi kepemilikan ritel sendiri naik nyata dalam satu dekade: 6,5% pada 2015, 13,1% pada 2020, dan 18,4% pada Juli 2026. Kenaikan 11,9 poin persentase itu adalah perpindahan modal yang riil. Yang berbeda adalah lajunya dibanding laju aktivitas.

Ukuran Order Mengecil Saat Frekuensi Naik

Rasio frekuensi terhadap nilai per transaksi adalah instrumen yang saya pakai untuk memisahkan kedua ukuran itu, dan 2026 memberi pembacaan yang jelas.

Sepanjang tahun berjalan hingga Juli 2026, nilai transaksi tumbuh 24,6%, volume tumbuh 30,3%, dan frekuensi tumbuh 41,9%. Frekuensi berlari 17,3 poin persentase lebih cepat daripada nilai. Konsekuensi aritmetiknya langsung: nilai rata-rata per transaksi turun 12,19%, dan nilai rata-rata per lembar saham turun 4,37%. Rata-rata nilai transaksi harian naik ke Rp22,5 triliun pada Juli 2026 dari Rp18,1 triliun pada 2025, tetapi dipecah ke dalam potongan yang lebih kecil.

Pekan 3–7 Agustus 2026 memperlihatkan pola yang sama dalam rentang satu minggu, dan dalam bentuk yang lebih tajam. Rata-rata volume harian melonjak 32,98% menjadi 39,95 miliar lembar dari 30,04 miliar. Rata-rata frekuensi harian naik 27,62% menjadi 2,32 juta kali dari 1,82 juta. Rata-rata nilai transaksi harian bergerak 0,38% menjadi Rp15,38 triliun dari Rp15,44 triliun.

Volume naik sepertiga, frekuensi naik lebih dari seperempat, nilai praktis diam. Diterjemahkan ke ukuran order: nilai per transaksi turun dari Rp8,48 juta menjadi Rp6,63 juta, atau 21,9% dalam satu pekan, dan nilai per lembar turun dari Rp514 menjadi Rp385, atau 25,1%. Tambahan aktivitas pekan itu masuk ke saham berharga lebih rendah dalam potongan lebih kecil. IHSG memang menguat 2,78% pada pekan tersebut, dan kapitalisasi pasar naik 2,64% ke Rp11.212 triliun. Kenaikan itu terjadi di atas nilai transaksi yang tidak bertambah.

Enam Persen yang Bertransaksi

Angka 30,27 juta SID mencakup pemilik reksa dana, surat berharga negara, dan saham sekaligus. Investor saham di dalamnya berjumlah 10.052.059 SID, bertambah 1.447.882 atau 16,83% sepanjang 2026.

Selisih laju itu penting. Basis SID total tumbuh 48,78%, basis investor saham tumbuh 16,83% — rasio 2,90 kali, atau jarak 31,96 poin persentase. Dari 9,93 juta akun baru sepanjang 2026, hanya 14,59% merupakan investor saham. Sebagian besar pertumbuhan berada di instrumen selain ekuitas.

Lapisan berikutnya lebih sempit lagi. Jumlah investor yang benar-benar bertransaksi pada hari bursa tercatat 144.000 pada 2024, 260.000 pada 2025, dan 620.000 pada 2026 — naik 4,31 kali dalam dua tahun. Terhadap 10,05 juta investor saham, angka itu setara 6,17%. Terhadap 30,27 juta SID, setara 2,05%. Dengan nilai transaksi harian Rp22,5 triliun, rata-rata nilai per investor aktif per hari berada di kisaran Rp36 juta.

Pertumbuhan 4,31 kali dalam dua tahun adalah pertumbuhan aktivitas yang nyata. Yang saya catat adalah denominatornya: kapasitas menyerap order besar ditentukan oleh 6,17% yang bertransaksi dan oleh ukuran posisi mereka, bukan oleh 30,27 juta akun yang terdaftar.

Ada satu ukuran lain yang menempatkan periode ini pada skalanya. Nilai aset C-BEST per SID turun dari Rp714 juta pada akhir 2024 menjadi Rp273 juta pada 7 Agustus 2026, atau 61,80%. Angka ini mencakup kepemilikan institusi dan karena itu bukan potret kekayaan investor ritel; yang diukurnya adalah seberapa cepat jumlah akun tumbuh melampaui nilai efek yang tercatat di belakangnya.

Free Float Efektif dan Rasio Dampak Harga

Kapasitas serap sebuah saham dibatasi oleh berapa banyak lembar yang benar-benar tersedia diperdagangkan. Sepanjang 2026 ukuran itu berpindah dari perkiraan menjadi data yang diumumkan.

Sejak 3 Maret 2026, BEI dan KSEI mempublikasikan kepemilikan saham di atas 1%, menindaklanjuti Keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 1/KDK.04/2026. Sebelumnya publik hanya melihat kepemilikan di atas 5%. Lalu BEI menerbitkan daftar High Shareholding Concentration (HSC), yaitu emiten yang sekitar 90% atau lebih sahamnya dikuasai kelompok pemegang saham tertentu, sehingga porsi yang tersedia di pasar relatif kecil.

Perkembangan daftar itu memberi ukuran langsung. Pengumuman perdana pada 3 April 2026 memuat 10 emiten. Pada 2 Juli 2026 jumlahnya 14. Pada 14 Juli 2026 BEI merevisi metodologi dengan menambahkan satu kriteria — rasio dampak harga (price impact ratio) untuk seluruh saham berkapitalisasi di atas Rp10 triliun — yang dihitung dari perubahan harga dibandingkan velositas transaksi. Sehari kemudian daftar bertambah 37 emiten menjadi 51. Per 5 Agustus 2026 jumlahnya 53, atau 5,51% dari 962 emiten tercatat.

Perluasan 3,64 kali itu datang dari penambahan ukuran dampak harga, bukan dari perubahan struktur kepemilikan emiten dalam satu hari. Rasio dampak harga adalah ukuran yang sama jenisnya dengan proksi Amihud: berapa besar harga bergerak per satuan nilai transaksi. Emiten yang lolos dari saringan kepemilikan mentah tersaring ketika likuiditasnya diukur lewat pergerakan harga per rupiah yang ditransaksikan. Itu adalah definisi operasional dari selisih antara aktivitas dan kedalaman.

Peta Konsentrasi Kepemilikan

Tabel berikut mengurutkan sebagian emiten berstatus HSC menurut satu kriteria tunggal: persentase saham yang dikuasai secara agregat oleh sejumlah pemegang saham tertentu, sebagaimana diumumkan BEI-KSEI atas struktur kepemilikan per 30 Juni 2026. Kolom kedua adalah porsi yang tersisa di luar kelompok itu.

Urutan Emiten Terkonsentrasi Sisa di luar kelompok
1 MPRO 99,99% 0,01%
2 DCII 99,96% 0,04%
3 BBSI 99,95% 0,05%
3 PGUN 99,95% 0,05%
5 POLU 99,94% 0,06%
6 BNLI 99,92% 0,08%
7 YUPI 99,91% 0,09%
8 SMAR 99,58% 0,42%
9 GEMS 99,24% 0,76%
10 SRAJ 97,21% 2,79%

Dua emiten lain masuk daftar lebih awal atas struktur kepemilikan per 2 April 2026: BREN pada 97,31% dan DSSA pada 95,76%. Dua tanggal pengukuran berbeda ini saya sebutkan terpisah karena keduanya tidak setara.

BEI menyatakan secara eksplisit bahwa pengumuman HSC tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan di bidang pasar modal. Daftar ini adalah keterbukaan informasi mengenai struktur kepemilikan, dan kolom terakhir adalah pernyataan paparan: pada emiten dengan sisa 0,05%, seluruh pembentukan harga terjadi pada porsi itu.

Ukuran kapitalisasi tidak memisahkan kelompok ini dari yang lain. Daftar per Juli 2026 memuat emiten berkapitalisasi besar bersama emiten lapis kedua, dan kriteria rasio dampak harga justru diterapkan khusus pada kelompok di atas Rp10 triliun.

Ketika Harga Layar Berbeda dari Harga Keluar

Pola ilusi likuiditas menjadi terukur ketika penyedia indeks global harus benar-benar keluar dari posisi.

Pada 13 Mei 2026 FTSE Russell mengumumkan perlakuan indeks untuk tinjauan Juni 2026: sekuritas Indonesia berstatus HSC dihapus dari indeksnya dengan harga nol, efektif pada pembukaan perdagangan Senin, 22 Juni 2026. Alasan yang disebut adalah risiko penurunan likuiditas yang menyulitkan investor pasif keluar secara wajar. FTSE Russell juga menunda pemeringkatan penuh, kenaikan free float, dan penambahan emiten baru hingga sekurangnya tinjauan September 2026.

Penghapusan pada harga nol adalah pernyataan mengenai eksekusi, bukan mengenai valuasi. Saham-saham itu punya harga di layar. Yang dinilai tidak tersedia adalah jalan keluar pada ukuran yang dibutuhkan pemegang indeks pasif. Selisih antara dua hal itu — harga yang terlihat dan harga yang bisa dieksekusi pada ukuran besar — adalah persis yang dimaksud dengan kedalaman.

Morgan Stanley Capital International (MSCI) lebih dulu mengeluarkan enam saham dari MSCI Global Standard Indexes dan 13 saham dari indeks kapitalisasi kecil pada penyesuaian Mei 2026.

Transmisi Jangka Pendek: Pasokan yang Sudah Terjadwal

Dalam hitungan bulan, satu pasokan sudah punya tanggal.

Revisi Peraturan Bursa Nomor I-A berlaku efektif 31 Maret 2026 dan menaikkan batas minimum free float dari 7,5% menjadi 15%. Masa transisi dibagi menurut kapitalisasi per 31 Maret 2026: emiten berkapitalisasi di atas Rp5 triliun dengan free float di bawah 12,5% wajib mencapai 12,5% pada 31 Maret 2027, lalu 15% pada 31 Maret 2028; yang free float-nya sudah 12,5–15% wajib mencapai 15% pada 31 Maret 2027. Untuk pencatatan awal, skema bertingkat 15%, 20%, dan 25% berlaku menurut kapitalisasi.

Sebanyak 270 emiten belum memenuhi ambang 15%, dengan estimasi tambahan saham yang harus dilepas ke pasar sekitar Rp203 triliun. Terhadap rata-rata nilai transaksi harian Rp22,3 triliun, angka itu setara 9,1 hari transaksi seluruh bursa — bukan hari perdagangan satu saham, melainkan seluruh nilai transaksi harian BEI selama sembilan hari. Sebagai pembanding pada skala yang sama, jual bersih investor asing sepanjang 2026 hingga 7 Agustus tercatat Rp71,29 triliun, setara 3,20 hari.

Yang berubah dalam hitungan bulan karena itu: komposisi order book pada emiten yang melakukan aksi korporasi pemenuhan free float, arah evaluasi berkala Komite HSC yang sudah berjalan sejak April, dan tinjauan MSCI. Pembekuan indeks MSCI masih berlaku pada Agustus 2026, dan MSCI menyatakan akan mempertimbangkan sejumlah opsi perlakuan bila kemajuan belum memadai hingga Index Review November 2026. Bobot Indonesia dalam indeks MSCI berada di 0,5%, pulih dari 0,4% pada Juni 2026.

Transmisi Jangka Panjang: Perpindahan Basis Kepemilikan

Dalam hitungan tahun, yang berpindah adalah komposisi pemegang.

Arahnya sudah terbaca pada data 2026: modal asing keluar Rp71,29 triliun dari pasar saham sementara basis domestik bertambah 9,93 juta akun. Kepemilikan bergeser dari investor asing ke investor domestik justru pada periode harga tertekan. Kepemilikan ritel domestik yang naik dari 6,5% pada 2015 menjadi 18,4% pada Juli 2026 adalah bentuk kumulatif dari perpindahan itu.

Perpindahan ini mengubah sifat harga dalam jangka panjang lewat dua jalur yang berlawanan tanda. Basis domestik yang lebih besar mengurangi ketergantungan pada arus pasif global, sehingga pembalikan arus global menggerakkan harga lebih sedikit daripada sebelumnya. Pada saat yang sama, ukuran posisi rata-rata yang lebih kecil dan horizon yang lebih pendek menggeser sumber kapasitas serap dari neraca institusi ke jumlah partisipan.

Jalur kedua adalah free float itu sendiri. Pemenuhan 15% pada 31 Maret 2028 menaikkan porsi saham yang tersedia diperdagangkan pada ratusan emiten sekaligus. Porsi lembar yang benar-benar bisa ditransaksikan adalah batas atas kedalaman sebuah saham; menaikkannya pada ratusan emiten memindahkan batas itu secara permanen, terlepas dari posisi siklus harga. Waktu pengujiannya diukur dalam tahun.

Sisi Lain

Membaca 2026 hanya lewat selisih aktivitas dan kedalaman akan melewatkan sebagian datanya.

Basis domestik menyerap jual bersih asing Rp71,29 triliun tanpa kegagalan pasar. Bursa tetap buka, penyelesaian transaksi berjalan, dan rata-rata nilai transaksi harian Juli 2026 sebesar Rp22,5 triliun berada di atas Rp18,1 triliun pada 2025. Dari titik terendah 5.342 pada 8 Juni 2026, IHSG pulih 19,99% ke 6.409,65 pada 7 Agustus. Pemulihan itu berlangsung ketika arus asing masih negatif secara kumulatif.

Kinerja emiten juga bergerak berlawanan arah dengan harga. Sekitar 80% emiten mencetak laba bersih pada kuartal I-2026, persentase tertinggi dalam lima tahun, dengan laba agregat tumbuh 29,9% secara tahunan. Valuasi turun ke price-to-earnings ratio (PER) 12,69 kali dan price-to-book value (PBV) 1,63 kali pada 28 Juli 2026, dari 14,69 kali dan 1,90 kali pada 30 April. Penurunan harga 2026 karena itu bukan penurunan laba.

Ada juga keberatan metodologis terhadap ukuran saya sendiri. Rasio 2,78 kali membandingkan porsi transaksi Juli 2026 dengan porsi kepemilikan Juli 2026, dan putaran yang tinggi adalah karakteristik yang wajar dari investor berukuran kecil di pasar mana pun; angka itu mengukur intensitas, bukan mutu keputusan. Nilai per transaksi yang mengecil juga sebagian merupakan produk teknologi eksekusi dan pemecahan order otomatis, yang berlaku pada institusi maupun ritel. Dan reformasi transparansi 2026 — keterbukaan 1%, kerangka HSC, free float 15% — adalah perbaikan struktural yang menaikkan kedalaman terukur, bukan menurunkannya.

Titik Data yang Menguji Selisih Ini

Kesimpulan yang saya pegang: sepanjang 2026 likuiditas aktivitas bursa Indonesia tumbuh lebih cepat daripada likuiditas struktural, dan selisihnya terbaca pada ukuran order yang mengecil sementara jumlah akun bertambah 48,78%.

Beberapa data akan mengujinya.

Nilai per transaksi pada statistik bulanan BEI. Nilai per transaksi berhenti turun, atau naik, sementara frekuensi tetap tumbuh — pembacaan itu menandakan ukuran posisi rata-rata membesar.

Laporan pemenuhan free float menjelang 31 Maret 2027. Jumlah dari 270 emiten yang mencapai 12,5% dan nilai saham yang benar-benar dilepas, dibandingkan estimasi Rp203 triliun.

MSCI Index Review November 2026. Pencabutan sebagian pembekuan, atau perpanjangannya, beserta arah bobot Indonesia dari posisi 0,5%.

Evaluasi berkala Komite HSC. Jumlah emiten yang keluar dari daftar 53 dan alasan keluarnya, khususnya pada emiten berkapitalisasi di atas Rp10 triliun yang masuk lewat kriteria rasio dampak harga.

Arus bersih investor asing terhadap Rp71,29 triliun. Perubahan tanda pada basis bulanan, dan porsi transaksi institusi asing dari posisi 35,8% pada Juli 2026.

Perlakuan indeks FTSE Russell pada tinjauan September 2026. Pemulihan pemeringkatan penuh dan kenaikan free float, atau penundaan lanjutan.


Tulisan ini disusun untuk tujuan edukasi dan analisis data, bukan rekomendasi investasi.

Sumber data: Bursa Efek Indonesia (statistik perdagangan, pengumuman HSC, Peraturan Nomor I-A), Kustodian Sentral Efek Indonesia (data SID dan C-BEST), Otoritas Jasa Keuangan (Keputusan Dewan Komisioner Nomor 1/KDK.04/2026), MSCI (pengumuman perlakuan indeks Indonesia), FTSE Russell (Indonesia-index treatment, Juni 2026).